Budidayakan Lengkeng, Penyuluh Pertanian Panajam Ini Raup Untung Besar

PENAJAM - Penyuluh Pertanian di Penajam Paser Utara (PPU) Sukses membudidayakan tanaman lengkeng. Adalah Larahuna Rauf, seorang penyuluh pertanian di BPP Petung PPU juga merupakan penyuluh berjiwa agribisnis.

Di tengah kesibukannya sebagai penyuluh pertanian, Rauf yang lebih senang bertugas di lapangan daripada di belakang meja ini, sukses membudidayakan tanaman lengkeng di kebunnya yang berlokasi di Kelurahan Riko, Kecamatan Penajam.

Menurutnya, dengan melakukan budidaya lengkeng ini, selain sebagai bisnis usaha sampingan, sekaligus juga sebagai sarana penyuluhan dan memberikan contoh kepada petani bagaimana membudidayakan tanaman lengkeng yang baik.

"Dan yang lebih penting lagi, agar petani mampu melihat peluang dan memilih tanaman yang memberikan hasil tinggi. Semoga ini dapat memotivasi dan mendorong tumbuhnya jiwa wirausaha pada petani, terutama petani muda," jelasnya.

Rauf menceritakan, dia memulai budidaya tanaman lengkeng pada tahun 2015 di lahan seluas lebih kurang 1 hektare dengan jumlah tanaman sebanyak 250 pohon yang terdiri dari beberapa varietas lengkeng.

Kemudian pada tahun 2016 diperluas lagi 2 hektare dengan jumlah 500 tanaman, dengan rincian 50 tanaman lengkeng  merupakan varietas kaisar dan 450 tanaman varietas kateki.  

Saat ini Rauf mulai menuai hasil yang ditanamnya. Untuk 250 pohon ditanam pada tahun 2015 hasil yang diperoleh kurang memuaskan, karena banyak varietas yang ditanam daging buah lengkengnya tipis sehingga kurang laku di pasaran.

Karena itu, dia memutuskan untuk melakukan top working pada varietas tanaman yang kualitas daging buahnya tipis. 

Hasil berbeda diperolehnya untuk 500 tanaman yang ditanam pada tahun 2016. Pada saat ini tanaman tersebut sedang panen perdana dengan rata-rata hasil per pohon 10 kilogram per musim.

Menurutnya, tanaman lengkengnya dapat dibuahkan dua kali dalam 16 bulan. Dalam budidaya lengkeng Rauf telah melakukan rekayasa  dengan melakukan perangsangan pembuahan (diinduksi) dengan menggunakan KClO3 .

Pembuahan lengkeng tidak mengikuti musim. Hal ini karena jenis lengkeng yang ditanam adalah dari jenis yang berasal dari daerah subtropis sehingga bila ditanam di daerah tropis tidak bisa berbuah secara alami.  

"Jadi jumlah pohon yang akan dibuahkan setiap tahap pembuahan tergantung rencana dan keinginan, melihat kondisi pasar dan musim buah," imbuhnya.

Lebih lanjut Rauf menceritakan, waktu yang dibutuhkan mulai dari penginduksian sampai panen butuh waktu 6 bulan. Kemudian setelah panen butuh waktu 2 hingga 3 bulan untuk pemulihan tanaman, kemudian baru dibuahkan lagi. 

Dengan harga di tempat Rp35.000 per kilogram, buah lengkeng tanaman Rauf laris manis, apalagi dalam bulan puasa saat ini. Dalam hitungan kasar jika 60 persen saja yang menghasilkan, ada 300 pohon dikali 10 kilogram per pohon berarti dalam satu musim panen dapat 3.000 kilogram.

Jika dikalikan Rp35.000 per kilogram diperoleh pendapatan kotor Rp105.000.000. Dapat dibayangkan betapa menguntungkan budidaya lengkeng yang dilakukan, walaupun semua itu tidak semudah membalik telapak tangan.

"Perlu kerja keras dan keuletan.  Tidak ada kesulitan dalam pemasaran," kata Rauf. 

Saat ini  hasilnya dapat diserap pasar di Kabupaten Penajam Paser Utara. Kondisi ini juga memang diciptakan untuk menjaga harga melalui pengaturan pasokan dengan pengaturan pembuahan seperti yang sudah diceritakan di atas.[advertorial]

Posting Komentar

0 Komentar