Food Estate, BBPP Binuang Gelar Pelatihan Budidaya Padi Lahan Rawa Bebas Residu

KUALA KAPUAS - Era pestisida memang menyerang dunia pertanian sejak pupuk buatan pertama kali ditemukan sekitar abad ke-19. Dengan penggunaan pupuk buatan itu, keuntungan lebih murah, lebih kuat, dan lebih gampang didistribusikan.

Metoda itu memiliki dampak jangka panjang yang merugikan, mulai turunnya nilai kesuburan tanah hingga permasalahan zat-zat kimia berbahaya. Pestisida kimia juga dapat menjadi residu pada produk yang dihasilkan.   

Untuk menekan dampak merugikan tersebut perlu digalakkan budidaya tanaman yang mengurangi penggunaan pestisida kimia, melalui pengembangan budidaya padi bebas residu untuk menghasilkan gabah/beras yang berkualitas.

Pendampingan oleh para penyuluh dan petugas pertanian lainnya perlu terus dilakukan agar cara bercocok tanam yang dilakukan petani, khususnya di kawasan program Food Estate Kalimantan Tengah.

Ini sesuai dengan kaidah pertanian organik dapat diwujudkan dan kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi produk organik (bebas residu) semakin meningkat, sehingga peluang pasar untuk beras organik (bebas residu) semakin terbuka.

Untuk itu, Balai Besar Pelatihan pertanian (BBPP) Binuang sebagai UPT Pusat Pelatihan Pertanian (Puslatan) BPPSDMP, Kementan menggelar Pelatihan Tematik Berbasis Korporasi Mendukung Food Estate Angkatan XI bertajuk Budidaya Padi Lahan Rawa Bebas Residu II.

Pelatihan digelar di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Pulau Petak Kabupaten Kapuas selama 3 hari, 28 hingga 30 September 2020. Sebanyak 30 orang peserta terdiri dari petani, penyuluh dan Babinsa se-Kecamatan Pulau Petak ambil bagian dalam kegiatan ini.

Koordinator BPP Pulau Petak,  H Widadi SP mengatakan, pelatihan ini sangat tepat karena saat ini rencana persiapan lahan untuk penanaman padi di kecamatan Pulau Petak.  

“Pada bulan Oktober ini direncanakan sekitar 900 ha dari luas Food Estate di Kecamatan Pulau Petak seluas 1340 hektare,” ungkap Widadi.

Kepala BBPP Binuang, Dr Ir Yulia Asni Kurniawati M.Si dalam sambutannya menekankan akan pentingnya kegiatan Food Estate, mengingat diproyeksikan sebagai penyedia pangan untuk masyarakat Indonesia.

"Diharapkan nantinya di Kecamatan Pulau Petak terbentuk korporasi yang dapat menguntungkan petani karena punya harga tawar yang tinggi dalam mengelola usahanya,” pungkas Yulia.

Peserta pelatihan dibekali materi, antara lain mengidentifikasi hama dan penyakit padi beserta cara pengendaliannya. Juga praktik  membuat pestisida nabati dengan harapan penggunaan pestisida kimia berkurang dengan memanfaatkan tanaman yang ada di sekitar rumah untuk membuat pestisida nabati sehingga residu akibat penggunaan pestisida dapat ditekan.[sukadi]

Penulis: Sukadi

Posting Komentar

0 Komentar