Support Penanganan Panen dan Pasca Panen Jagung, BBPP Binuang Gelar Diklat Non Aparatur di Bartim

UNTUK mendukung kebutuhan jagung sebagai bahan pangan dan bahan pokok bagi industri pakan ternak, diperlukan jaminan ketersediaan jagung dengan mutu yang baik. 

Jagung sendiri merupakan produk musiman yang mudah rusak. Untuk itu perlu diterapkan teknologi pasca panen yang tepat agar komoditi jagung tetap tersedia sepanjang tahun, tidak mudah rusak dan lebih tahan disimpan.

Masalah utama dalam penanganan pasca panen jagung di tingkat petani, adalah masih tingginya kehilangan hasil mulai dari panen sampai pasca panen. Hal ini disebabkan terbatasnya pengetahuan dan keterampilan petani dalam penanganan panen dan pasca panen serta Alsintan yang cukup mahal.

Jagung juga merupakan salah satu komoditas yang bernilai strategis dan bernilai ekonomi sehingga pada saat ini menjadi prioritas bagi Kabupaten Barito Timur.

Penanganan pasca panen yang tepat diperlukan untuk mendapatkan jagung yang bermutu tinggi dan menekan kehilangan hasil. Penanganan yang kurang baik akan menyebabkan kerusakan biji sehingga menurunkan mutu dan harga jagung. 

Teknologi penanganan pasca panen dapat menekan tingkat kehilangan kuantitatif dan kualitatif, serta menentukan derajat pencapaian peningkatan mutu.

Mengingat pentingnya masalah panen dan pasca panen jagung ini, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Barito Timur menghadirkan Balai Besar Pelatihan (BBPP) Binuang untuk melaksanakan Pelatihan Penanganan Panen dan Pasca Panen Jagung Bagi Non Aparatur.

Berlangsung selama 3 hari, dari 23 hingga 25 Juni 2021, pelatihan ini diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari 10 kecamatan yang ada di Kabupaten Barito Timur.

Susmawati SP MP selaku Fasilitator dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa mutu hasil panen jagung akan baik bila jagung dipanen pada tingkat kematangan yang tepat (matang optimal). Waktu panen sebaiknya dilakukan pada hari-hari cerah, jangan pada saat hujan. Ini agar penanganan jagung setelah dipanen yaitu pengeringan tidak mendapat hambatan.

Kemudian jagung sebaiknya dipanen dalam bentuk tongkol lengkap dengan kelobotnya. Pasalnya, bila dipanen tanpa kelobot, risiko kerusakan butir-butir jagung tambah besar. Segera setelah dipanen pisahkan jagung yang tidak sehat/terinfeksi penyakit di lapangan supaya penyebaran hama dan penyakit dapat dicegah.

“Kadar air jagung yang memenuhi standar mutu perdagangan adalah 14 persen. Untuk biji yang akan disimpan kadar air sebaiknya 13 persen, di mana jamur tidak tumbuh dan respirasi biji rendah," jelasnya. 

Oleh karena itu, lanjutnya, disarankan agar pengeringan dilakukan segera dalam waktu 24 jam setelah panen. Panen jagung yang jatuh pada musim hujan, pengeringan dapat dilakukan dengan menggunakan alat pengering mekanis, seperti alat pengering jenis batch dryer, pengeringan bertingkat, dan lain-lain.

"Pada prinsipnya ada dua persyaratan faktor-faktor penentu mutu, yaitu persyaratan kualitatif dan kuantitatif, di mana persyaratan kualitatif itu meliputi biji jagung harus bebas dari hama dan penyakit, biji jagung harus bebas dari bau busuk, masam, apek, atau bau asing lainnya, biji jagung harus bebas dari tanda-tanda adanya bahan kimia yang membahayakan, baik secara visual maupun secara organoleptik," paparnya. 

Sedangkan untuk persyaratan kuantitatif, meliputi kadar air, butir rusak, butir warna lain, butir pecah dan kotoran yang ada.

Ditemui terpisah, salah satu peserta pelatihan, Ngatimin mengaku sangat senang dengan adanya pelatihan ini. 

'Pelatihan penanganan panen dan pasca panen jagung ini sangat bermanfaat bagi kami, karena kami akhirnya tahu tentang kapan waktu panen, pengeringan, penyimpanan serta mutu dan standar mutu dari jagung. Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi kami," ujar Ngatimin dengan wajah sumringah.[rilis]


Posting Komentar

0 Komentar