Berkat Program Kementan, Millenial Pelaihari Sukses kembangkan Budidaya Melon

PELAIHARI - Kementerian Pertanian fokus pada peningkatan dan kualitas SDM Pertanian, Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo menegaskan, regenerasi petani salah satu fokus Kementan bagi keberlanjutan pembangunan pertanian di Indonesia.

"Indonesia harus menjalankan pertanian efektif, efisien dan transparan melalui pengembangan pertanian maju, mandiri dan modern yang dimotori oleh petani milenial. Melalui sinergi dengan IFAD, Kementan berupaya meningkatkan regenerasi melalui pengembangan petani milenial sekaligus memastikan bahwa bertani itu keren,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengungkapkan harapannya melalui program YESS akan terwujud regenerasi pertanian, meningkatnya kompetensi sumberdaya manusia dari perdesaan, meningkatnya jumlah wirausaha muda di bidang pertanian. 

Sehingga pertanian akan menjadi lapangan kerja menarik, prospektif dan menguntungkan, dan dapat berdampak pada penurunan angka pengangguran serta terjadinya urbanisasi.

“Program YESS ini sangat mendukung dalam pengembangan sumberdaya manusia pertanian, dengan memberdayakan para pemuda tani untuk memanfaatkan sumberdaya alam pertanian di pedesaan, secara optimal, profesional, menguntungkan dan berkelanjutan tentunya mereka ini akan siap menghadapi era milenial,” ujarnya.

Adalah Hairul Effendi seorang pemuda dari Desa Ujung Batu RT.13 Kecamatan Pelaihari, Kalimantan Selatan yang sukses mengembangkan usaha budidaya melonnya dari yang semula hanya 2.000 tanaman, hingga kini menjadi 5.000 tanaman.

Petani muda yang berusia 29 tahun ini mengaku mulai menggeluti budidaya melon sejak 2018 lalu. Hal ini Ia lakukan karena menurutnya budidaya melon lebih menguntungkan.

“Saya memilih melon karena melon harganya stabil, jarang jatuh seperti tanaman lainnya,” aku Hairul saat dikunjungi oleh PPIU Kalsel di kediamannya, Kamis (14/4/2022) lalu.

“Sebelum budidaya melon, saya juga pernah budidaya sayur lainnya seperti timun, pare, dan cabai. Tapi sejak tahun 2018, saya mulai berfokus pada komoditas melon saja," jelas Hairul.

Keberhasilan Hairul ini tidak lepas dari peran Program Youth Entrepreunership and Employment Support Service (YESS). 

Melalui program dari Kementerian Pertanian (Kementan) inilah, Hairul mampu menambah luasan lahan yang semula hanya ¼ ha dengan populasi 2.000 tanaman melon dengan tonase kurang lebih 6 ton. 

Kini Ia dapat menanam 5.000 tanaman melon di lahan dengan luasan 1 ha dengan tonase mencapai 15 ton.

Program  yang merupakan hasil kerjasama dengan  International Fund for Agricultural Development (IFAD) ini merupakan bentuk keseriusan Kementan RI dalam meregenerasi petani serta melahirkan wirausaha milenial dari sektor pertanian.

Lebih lanjut, untuk pemasarannya, Hairul tak perlu susah payah memasarkan hasil panennya ke luar. Hal ini dikarenakan para pembeli biasanya datang langsung ke tempatnya. Pembelinyapun datang dari berbagai kota yang ada di kalsel. Ada yang dari Martapura, Banjarbaru, bahkan dari Pelaihari sendiri.

Kendati demikian, Hairul tetap berharap ia dapat terus dibimbing dan didampingi, salah satunya dari segi pemasarannya. Bagaimana agar bisa menjual hasil panen ke pasar modern, sehingga dapat harga yang lebih bagus.

Dalam perjalananya, kendala yang paling sering Hairul alami adalah kondisi cuaca. Curah hujan yang terlalu tinggi dan intensitas curah hujan yang banyak dapat mengganggu kulitas dari hasil panennya. Sehingga untuk ke depannya Ia berencana untuk menerapkan smart farming dalam usaha pertaniannya.

“Harapannya program seperti ini akan selalu ada. Karena program ini sangat membantu dari segi permodalan dan menambah skala usaha. sselain itu, program ini juga mampu meningkatkan produktivitas pertanian," tutupnya.[advertorial]