BARABAI - Sebuah video amatir yang memperlihatkan seorang pelajar melempar paket Makan Bergizi Gratis (MBG) karena mengeluhkan rasa menu masakan beredar luas di media sosial Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Jumat (19/6/2026).
Rekaman berdurasi 31 detik yang diduga melibatkan siswa MTsN 6 HST tersebut memicu kegaduhan publik setelah sang murid secara demonstratif membuang jatah makanannya.
"Nah, ini tempe kada nyaman (tidak enak)," keluh siswa tersebut saat mengkritik lauk yang diterimanya di dalam kelas.
Paket logistik yang menjadi pemantik persoalan itu diketahui berisi nasi putih, tempe, tumisan sayur, dan sosis. Pasokan pangan ini didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Paya, Kecamatan Batang Alai Selatan, melalui mitra kerja penyedia katering dari Yayasan Melatai Santina Utama.
Insiden ini langsung memunculkan gelombang kritik dari masyarakat terkait standardisasi rasa dan lemahnya kontrol kualitas sebelum makanan disajikan kepada para siswa. Evaluasi berkala pada rantai pasok program nasional ini dinilai mendesak agar anggaran negara tidak terbuang sia-sia akibat penolakan dari penerima manfaat.
Menanggapi kegaduhan tersebut, Kepala SPPG Paya, Nida Ul Husna, mengaku terkejut karena sebelumnya tidak ada nota keberatan resmi yang dilayangkan oleh pihak lembaga pendidikan.
"Pihak kami tidak menerima laporan apa pun dari sekolah terkait kejadian itu," cetusnya saat dikonfirmasi mengenai keabsahan video.
Nida menyayangkan aksi tersebut dan menduga perekaman dilakukan secara sembunyi-sembunyi di luar jam pengawasan guru.
"Video itu tampaknya dibuat tanpa sepengetahuan guru, mengingat aturan sekolah melarang keras siswa membawa telepon genggam saat proses pembelajaran berlangsung," tambahnya memberikan klarifikasi.
Di sisi lain, tanggung jawab penyediaan hidangan yang dinilai kurang memenuhi selera anak-anak ini diserahkan sepenuhnya kepada pihak ketiga untuk diselesaikan.
Perwakilan Yayasan Melatai Santina Utama, Misbah, menyatakan kesiapannya untuk melakukan investigasi mendalam atas keluhan mutu makanan tersebut.
"Kami mencoba menyelesaikan permasalahan ini di tim internal kami dan pihak sekolah," ujar Misbah singkat.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala MTsN 6 HST, Azizatul Ulya, masih enggan memberikan komentar, sementara publik mendesak adanya transparansi uji klinis kelayakan rasa agar program pemenuhan gizi ini tepat sasaran.[nata]
Tags
peristiwa
