Petani Kahayan Tengah Panen Padi Varietas Unggul

SENYUM lepas dan bahagia ditunjukkan oleh para petani di Kelompok Tani Isen Mulang Desa Bukit Rawi, Kecamatan Kahayan Tengah, Kabupaten Pulang Pisau. Pasalnya mulai Rabu (17/2/2021), dilakukan panen perdana padi di hamparan pertanaman yang sudah serentak menguning. 

Saat dihubungi melalui saluran telepon, Kusno Wahyudi, Penyuluh Pertanian Kabupaten Pulang Pisau menuturkan, pihaknya mengapresiasi kinerja penyuluh pertanian setempat di WKPP Bukit Rawi yang telah mendorong perubahan budaya pertanian ke arah yang modern.

“Kami sangat berterima kasih kepada para penyuluh pertanian di WKPP Buit Rawi yang telah berupaya memperbaiki budaya pertanian di sini yang awalnya membakar lahan, sekarang sudah tidak membakar lahan," jelasnya.

Jenis varietas yang ditanam juga merupakan varietas unggul yaitu Inpari 42. 

“Jika sebelumnya para petani menggunakan varietas lokal, sekarang ini sudah memulai untuk menggunakan varietas unggul dengan harapan dapat meningkatkan produktivitas," terangnya.

Benar saja hasil ubinan yang didapat menunjukkan hasil estimasi padi mendapatkan 3,5 ton per hektare. Hasil ini lebih tinggi dari varietas lokal yang sebelumnya ditanam yang biasanya hanya mencapai rata-rata 2,5 ton per hektare.

Panen perdana padi di kelompok tani Isen Mulang ini mendapatkan perhatian dari Dinas Pertanian Kabupaten Pulang Pisau, sehingga hadir pada panen perdana ini antara lain Bidang Tanaman Pangan, Bidang Hortikultura dan Bidang Penyuluhan. 

Aman Nurrahman Kahfi, Widyaiswara BBPP Binuang mengatakan, gap yang sangat mencolok antara budaya pertanian yang sangat tradisional dengan budaya pertanian yang sangat maju harus segera diperkecil dengan cara mengejar ketertinggalan petani-petani tradisional yaitu dilakukan edukasi dan dilatih sehingga mengikuti pola-pola pertanian modern. 

Hal ini bukan hanya untuk mendukung peningkatan jumlah pangan yang diproduksi, juga mengarahkan pada efisiensi dan konservasi sumber daya alam. 

“Budaya membakar lahan sebelum tanam harus segera mungkin ditinggalkan oleh petani untuk menghindari terjadinya kebakaran hutan dan menjaga lahan agar tetap produktif di lokasi yang sama, sehingga dapat dimanfaatkan untuk jangka waktu yang lama," pungkasnya.[rilis]

Posting Komentar

0 Komentar