Dari Meriam sampai "Somun": Tradisi Ramadhan di Bosnia Herzegovina

Membunyikan meriam ketika sahur, imsak dan buka puasa, tradisi saat Ramadhan di Bosnia Herzegovina. | Foto: Sarajevo Times.

TRADISI membunyikan meriam ketika tiba waktu berbuka puasa, pernah ada di beberapa daerah di Indonesia. Namun di Bosnia Herzegovina, tradisi ini bahkan masih dilakukan setiap bulan Ramadhan tiba.

Lebih dari separuh penduduk Bosnia Herzegovina memang beragama Islam. "Bosniak" merupakan sebutan bagi orang-orang Muslim di sini.

Di negara yang terletak di bagian tenggara Eropa ini, kebiasaan membunyikan meriam telah ada sejak berabad silam. Sejak era kekhalifahan Utsmaniyah (1517-1924). 

Menandai tibanya bulan Ramadhan, yakni pada saat sahur pertama, dentuman dahsyat akan menggelegar di langit Sarajevo, ibukota negara ini. Meriam dibunyikan dari Benteng Kuning atau Zuta Tabija, bangunan peninggalan abad ke-18.

Bertepatan dengan berakhirnya Perang Dunia II, yakni pada 1945, tradisi ini sempat terhenti. Tapi berpuluh tahun kemudian, tepatnya pada 1997, warga setempat kembali menghidupkan kebiasaan itu.

Melalui situs Lonely Planet, seorang warga Bosnia Herzegovina menulis: setiap hari selama bulan Ramadhan, meriam biasanya dibunyikan sebanyak tiga kali.

Dentuman pertama akan terdengar dini hari, mengingatkan penduduk agar segera bersantap sahur. Tiba waktunya imsak, meriam kembali dibunyikan. 

"Boom" ketiga adalah yang paling dinanti warga Muslim setempat. Ia akan diperdengarkan sesaat sebelum adzan Maghrib berkumandang.

"Somun", roti tradisional Bosnia Herzegovina, sajian khas selama bulan Ramadhan. | Foto: Sarajevo Times.

TRADISI lain di Bosnia Herzegovina saat bulan Ramadhan, yaitu dihidangkannya "somun" atau "somuni". Ia adalah roti sederhana, yang jadi kuliner khas di negara ini.

Somun sebenarnya juga bisa dijumpai di toko-toko roti di luar bulan puasa. Tapi ia akan lebih istimewa jika disajikan saat berbuka puasa di bulan Ramadhan. 

Mungkin seperti kolak di tempat kita: lebih spesial jika disantap ketika buka puasa. 

Yang membedakan somun dengan roti-roti tradisional Eropa lainnya, yaitu taburan jinten hitam di bagian permukaannya. Saat dipanggang, orang bisa saja sejenak menghentikan langkah, sekadar untuk menghirup dan menikmati aromanya. (Hmmm...)

Selain topping jinten hitam, somun dibuat menggunakan bahan-bahan yang relatif sederhana: tepung (gandum), air dingin, ragi, sedikit garam dan gula. Tapi soal rasa, akan sepenuhnya bergantung pada siapa yang meracik.

Mufid Garibija, seorang arsitek sekaligus sejarawan kuliner di Sarajevo, mengatakan, somun sesungguhnya memiliki asal-usul dari India. Ia masuk ke Bosnia Herzegovina melalui Turki. 

"Somun itu kan sebenarnya nama orang. Keturunan sebuah keluarga di masa kekhalifahan Utsmani. Di Sarajevo, dia yang pertama kali membuat roti ini. Keturunan Somun, namanya trah Somuni, sekarang banyak bermukim di Bosnia timur", terang Mufid Garibija, sebagaimana dikutip Sarajevo Times.

Selain somun, makanan khas lain saat Ramadan di Bosnia Herzegovina adalah "tupa". Tapi ini agak mewah, karena dibuat dari campuran telur, susu dan keju. Tupa biasa disajikan sebagai pendamping roti seperti somun.

KEBIASAAN orang Bosnia Herzegovina dalam menyambut bulan Ramadhan, ternyata banyak yang serupa dengan yang kita lakukan. 

Sebelum bulan puasa tiba, warga setempat biasanya akan bersih-bersih rumah. Selain tentu saja, membersihkan tempat ibadah.

Acara musiman berupa buka puasa bersama pun ada. Baik yang dilakukan di masjid-masjid, maupun di tempat lainnya. 

Usai sembahyang tarawih, akan terdengar suara orang-orang mengaji. Mereka juga menggunakan pengeras suara. 

Pasar-pasar ramai pada siang hari. Kaum wanita berbelanja aneka kebutuhan, untuk dimasak dan dihidangkan saat berbuka dan sahur bersama keluarga.

Usai menunaikan shalat Maghrib dan tarawih, beberapa warga Sarajevo biasanya membuka warung kopi di depan rumah. Kedai kopi ini akan ramai pengunjung, baik penduduk kota maupun wisatawan.

Bagi orang Bosnia, kopi bukan sekadar minuman. Bisa dibilang, kopi adalah bagian dari peradaban mereka.

Tiap keluarga umumnya punya alat peracik kopi sendiri. Mulai dari grinder, French press, moka pot, pour over, atau alat yang lain.

Yang mengejutkan, ketika hari raya tiba, beberapa kebiasaan saudara-saudara di Bosnia Herzegovina, bahkan sama persis dengan adat kita. 

Beberapa hari sebelum Ramadhan berakhir, penduduk akan membersihkan dan menghiasi rumah-rumah mereka. Di hari pertama Idul Fitri, mereka akan berziarah kubur. 

Anak-anak dan remaja mengenakan pakaian baru, sembari menunggu jatah "amplop" dari orang-orang yang lebih tua.[sahrudin]