Sempat Tenggelam, Petani Kurau Tetap Panen Padi

RENCANA impor oleh pemerintah, ternyata telah menyebar luas dimasyarakat petani. Menurut pengakuan petani akan sangat merugikan petani karena berdampak pada rendahnya harga jual gabah mereka, meskipun kebijakan impor ini belum pasti.

Diakui ketua kelompok dan penyuluh Desa Tambak Sarinah Kecamatan Kurau Kabupaten Tanah Laut, areal persawahan petani sempat terendam banjir awal tahun lalu masih dapat dipanen.

“Alhamdulillah masih panen musim ini, meski bulan januari lalu areal persawahan iini tenggelam pak,” ujar Sutomo, penyuluh pertanian Desa Tambak Sarinah.

Desa Tambak Sarinah merupakan areal pengembangan program SERASI yang bergulir sejak tahun 2019 lalu. Lahan di Tambak Sarinah merupakan lahan rawa pasang surut, sehingga aktivitas budidaya padi sangat dipengaruhi pasang dan surutnya air laut. 

Meski demikian, petani di desa tambak sarinah rata-rata dapat menanam padi hingga 2 kali dalam satu tahun, dengan pola tanam varietas unggul dan lokal.

Sebenarnya program SERASI menuntut agar petani dapat mengoptimalkan varietas unggul. Namun hal ini tidak dapat dipenuhi oleh masyarakat pada umumnya, dengan alasan masih tergantung pada pengelolaan air yang belum dapat diatur, karena masih wilayah areal lahan sawah tadah hujan dan perbedaan harga beras unggul dan local sangat berbeda jauh.

Harga beras lokal per kilonya mencapai minimal 9.000 hingga Rp13.000 sedangkan beras padi unggul lebih murah.  

Selain itu rasa aromatik beras varietas lokal seperti siam unus, banjar, dan siam mayang serta jenis varietas local lainnya belum dapat digantikan dengan rasa beras varietas unggul oleh masyarakat banjar.

Panen musim ini hasilnya cukup memuaskan, hasilnya cukup baik meski sempat terendam banjir, walaupun beberapa areal ada yang gagal panen. 

Namun yang dirasakan oleh petani adalah stabilitas harga gabah yang cukup rendah, dan menurut pengakuan ketua kelompok “Desa Membangun” Bapak Irun, menyatakan jika dihitung analisa usaha masih belum mendapatkan untung, khususnya jika bertanam varietas unggul.

"Kalau dihitung-hitung dengan harga gabah sekarang yang hanya Rp4.200 hingga 4.300 GKP ya masih rugi pak, apalagi dengar-dengan pemerintah mau impor beras lagi, ya pastinya harga akan turun lagi walaupun baru rencana,” terang Irun, salah satu Ketua Kelompok Tani Desa Membangun, di Desa Tambak Sarinah.[rilis/Swd]