Podorejo dan Kemiri Redjo, Kopinya Wong Magelang

Kopi Kemiri Redjo dalam kemasan terbarunya 95 gram. Harganya relatif terjangkau, hanya Rp 5 ribu. | Foto: Sahrudin.

DI MAGELANG, Jawa Tengah, terdapat setidaknya dua industri pengolahan kopi, yang produk-produknya kemudian menjadi "identitas" bagi daerah ini. 

Yang pertama, PT Podorejo Sukses, berada di Dusun Demesan, Girirejo, Tempuran, Kabupaten Magelang. Dari pabrik ini, lahirlah kopi "Tjap Tjangkir", lalu disusul kopi "Armada".

Yang kedua, Perusahaan Kopi Bubuk Kemiri Redjo, beralamat di Jalan Jenggala Nomor 8, Kota Magelang. Dari sini, muncullah kopi merek "Kemiri Redjo".

Kedua perusahaan itu sama-sama berumur tua. Podorejo berdiri sejak 1949, dan Kemiri Redjo setahun lebih awal, yakni 1948.

Bagi pecinta fanatik kopi murni, produk-produk kopi kemasan buatan Podorejo maupun Kemiri Redjo, barangkali tak masuk hitungan.

Lebih-lebih, yang berprinsip bahwa secangkir kopi haruslah diracik dari 100 persen biji Coffea canephora atau Coffea arabica.

Ini disebabkan produk-produk yang beredar di pasaran dari kedua pabrik legendaris itu, memang tidak 100 persen berbahan biji kopi. Ada campuran biji jagung di dalamnya.

Tapi untuk penikmat kopi yang lebih mengutamakan "nasgitel" (panas, legi, kenthel) ketimbang perkara kemurnian kopi, baik Podorejo maupun Kemiri Redjo akan sulit tergantikan.

Aromanya, apalagi kalau sudah diseduh jadi nasgitel, sudah sedemikian khas.

Orang membeli kopi Tjap Tjangkir atau Kemiri Redjo, bukan hanya lantaran harganya yang sangat terjangkau. Soal aroma dan citarasa, juga menjadi pertimbangan tersendiri.

Kedua merek lokal itu sudah puluhan tahun mengisi kios-kios dan toko-toko di daerah eks-Karesidenan Kedu, yakni di Magelang dan sekitarnya. 

Dalam kurun waktu yang sedemikian panjang, tentu Tjap Tjangkir dan Kemiri Redjo telah mendapat tempat tersendiri di tengah masyarakat di daerah-daerah itu.


KEMIRI Redjo didirikan oleh Liem Eng Lie pada 1948. Mula-mula, Liem meracik kopi bubuk di rumahnya, di Jalan Kalingga Nomor 6, Kota Magelang.

Kemiri Redjo dibuat dengan campuran biji kopi dan jagung. Sebelum digiling menjadi bubuk, biji-biji kopi dan jagung dipanggang dengan alat berbahan bakar kayu.

Seluruh rangkaian proses pembuatan dilakukan manual, mulai dari tahap pemanggangan sampai penggilingan. Liem memperoduksi beberapa kilogram bubuk kopi perhari.

Perlahan, Kemiri Redjo mulai dikenal di Kota Magelang. Banyak yang cocok dengan kopi racikannya.

Tahun 1956, Liem membeli mesin panggang dan mesin giling masing-masing satu unit. 

Berbekal mesin panggang dan mesin giling ini, jumlah produksi bisa ditingkatkan menjadi beberapa puluh kilogram setiap hari.

Tahun 1993, karena faktor usia, Liem Eng Lie menyerahkan Kemiri Redjo kepada salah seorang putranya, Hadi Sarwono.

Permintaan yang terus meningkat dan prospek yang dipandang bagus, mendorong Hadi Sarwono memperbesar usaha Kemiri Redjo. 

Tahun 1996, ia membangun pabrik di atas lahan kurang lebih 650 meter persegi, di Jalan Jenggala Nomor 8 Kota Magelang.

Tahun itu pula, Hadi membeli mesin giling buatan Denmark. Perkakas ini mampu menggiling antara 100 sampai 150 kilogram biji kopi perhari.

Alat lain yang kemudian dimiliki Kemiri Redjo, yaitu satu unit roaster buatan Bandung, berkapasitas 150 sampai 200 kilogram perhari. Saat itu harganya Rp 14,7 juta.

Kopi Kemiri Redjo dipasarkan dalam kemasan 100 gram, 60 gram dan kemasan terbaru 95 gram.

Yang membuat Kemiri Redjo memiliki citarasa yang khas adalah komposisi dan proses pembuatannya.

Kemiri Redjo terdiri dari 20 persen biji kopi dan 80 persen biji jagung.

Biji kopi dipanggang selama 1,5 jam, sedangkan biji jagung selama dua jam.

Biji jagung yang selesai dipanggang, kemudian disemprot dengan saus yang terdiri dari tiga varian aroma, yaitu mocca, hobbies dan karamel.

Selama 73 tahun berjalan, perkembangan Kemiri Redjo memang lebih bersifat "ajeg". 

Saat ini, jumlah pekerjanya hanya sekitar 10 orang, terdiri dari karyawan bagian produksi, pemasaran dan administrasi.

Mereka bekerja selama enam hari dalam sepekan. Masing-masing menerima bayaran setiap hari Sabtu.

Karyawan yang telah bekerja lebih dari tiga tahun, berhak mendapat cuti tahunan. Lamanya 12 hari pertahun. Pekerja perempuan mendapat jatah cuti haid dua hari setiap bulan.

Oleh para karyawan, Kemiri Redjo dipasarkan bukan hanya di kota dan kabupaten Magelang saja, melainkan daerah-daerah sekitar seperti Temanggung, Wonosobo, Purworejo dan Kebumen.[sahrudin]

Posting Komentar

0 Komentar