Lolos dari Polemik, Film Dokumenter 'Pesta Babi' Sedot Perhatian Ratusan Warga Barabai

Lolos dari Polemik, Film Dokumenter 'Pesta Babi' Sedot Perhatian Ratusan Warga Barabai

BARABAI – Ratusan warga dari berbagai kalangan memadati Momen Coffee Barabai untuk menyaksikan pemutaran dan diskusi film dokumenter kontroversial berjudul "Pesta Babi" yang menyoroti potret konflik agraria di tanah Papua, Sabtu (16/5/2026) malam.

Sinema nondrama karya sutradara Dandhy Dwi Laksono bersama Cypri Paju Dale ini mengupas realitas sosial mengenai tergerusnya ruang hidup masyarakat adat akibat ekspansi korporasi skala besar di wilayah Papua Selatan. 

Di tengah kabar pembubaran pemutaran film ini di beberapa kota lain oleh aparat, publik di Bumi Murakata justru menunjukkan animo tinggi untuk membedah pesan lingkungan yang disampaikan secara objektif. 

Acara yang berlangsung tertib ini tidak hanya berfungsi sebagai media edukasi sinematografi, tetapi juga pemantik ruang dialektika bagi komunitas muda lokal. 

Melalui sesi diskusi pascapemutaran, para peserta aktif mengkritisi dampak pembangunan modern terhadap kelestarian kearifan lokal yang kian terancam punah.

“Film ini menunjukkan alih fungsi lahan bukan sekadar menebang pohon, tetapi menggambarkan bagaimana kerusakan lingkungan berbanding lurus dengan terancamnya keberlangsungan hidup masyarakat Papua,” ujar salah satu penonton, Emilda.

Narasi dalam dokumenter berdurasi 72 menit tersebut dinilai berhasil membuka mata publik mengenai dampak ekologis dari hilangnya hutan sakral bagi pangan lokal.

“Pesan yang disampaikan pembuat film sangat jelas, dan seharusnya pemerintah menyikapi sebagai pengetahuan serta membuka ruang dialog seluas-luasnya,” tambahnya mengkritisi pembubaran di daerah lain.

Tindakan represif terhadap karya seni dianggap mencederai hak kebebasan berpendapat dan berekspresi yang dilindungi oleh undang-undang di ruang demokrasi.

“Tingginya antusiasme penonton di Barabai membuktikan bahwa masyarakat kita semakin kritis dan peduli terhadap isu-isu kemanusiaan di tingkat nasional,” ungkap panitia penyelenggara di sela diskusi.

Kehadiran penonton yang meluber hingga ke luar area kedai kopi menegaskan pentingnya ketersediaan ruang alternatif untuk pemikiran progresif.

“Dokumenter ini menjadi cerminan agar kita di daerah juga lebih mawas diri dalam menjaga kelestarian ekosistem alam dari ancaman eksploitasi berlebihan,” pungkas seorang peserta diskusi merangkum esensi acara.

Pertemuan malam itu diakhiri dengan komitmen bersama dari komunitas kreatif lokal untuk terus menghidupkan budaya literasi audiovisual yang sehat di Kabupaten Hulu Sungai Tengah.[nata]
Lebih baru Lebih lama