Di Tengah Banjir Informasi Digital, Profesionalisme Jurnalis Kunci Jaga Stabilitas Kalsel

Di Tengah Banjir Informasi Digital, Profesionalisme Jurnalis Kunci Jaga Stabilitas Kalsel

BERSAMA JMSI Kalsel, Polda Kalsel menggelar FGD tentang menjaga Kamtibmas di Kalsel.| foto : aan

GAMBUT – Derasnya arus informasi di era digital menuntut jurnalis untuk semakin profesional dalam menyajikan berita yang edukatif, berimbang, dan bebas hoaks demi menjaga stabilitas sosial di Kalimantan Selatan.

Fenomena penyebaran hoaks, disinformasi, hingga berita provokatif di media sosial menjadi tantangan serius bagi dunia jurnalistik. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini berpotensi memicu keresahan bahkan konflik di masyarakat.

Alhasil, jurnalis harus mampu menghadirkan pemberitaan yang tidak hanya cepat, tetapi juga akurat dan mendidik. Media juga tidak cukup hanya menyampaikan informasi, tetapi juga harus memberikan pemahaman dan solusi kepada masyarakat. 

Prinsip keberimbangan menjadi salah satu pilar utama dalam praktik jurnalistik. Setiap informasi harus memuat berbagai sudut pandang agar tidak menimbulkan bias maupun kesalahpahaman.

Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Kalimantan Selatan, Anshari Yannoor saat diwawancara wartawan usai Forum Group Discussion (FGD) bertema "Peran jurnalis dalam menciptakan media edukatif, berimbang, dan bebas hoaks untuk menjaga Kamtibmas di Kalsel" yang berlangsung di Hotel Grand Tan Gambut, Selasa (23/6/2026) menegaskan bahwa verifikasi menjadi kunci utama dalam menjaga kredibilitas media.

“Berita yang baik adalah yang sudah melalui proses cek fakta. Tanpa itu, media berisiko menyebarkan informasi yang menyesatkan,” katanya.

Selain itu, kolaborasi lintas sektor dinilai penting dalam menghadapi tantangan informasi digital. Jurnalis diharapkan dapat bekerja sama dengan pemerintah, aparat keamanan, serta lembaga penyiaran untuk memperkuat literasi digital masyarakat.

Di tengah keberagaman sosial dan budaya di Kalimantan Selatan, peran media menjadi semakin krusial sebagai perekat sosial. Informasi yang disampaikan secara bijak dapat menjaga keharmonisan, sementara informasi yang keliru justru berpotensi memecah belah.

Dengan mengedepankan profesionalisme, akurasi, dan tanggung jawab, jurnalis diharapkan mampu menjadi pilar utama dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di era digital saat ini.

Sebelumnya saat membuka FGD Kasubdit Intelkam Direktorat Intelkam Polda Kalsel, AKBP Soetrijono, menegaskan bahwa stabilitas daerah sangat dipengaruhi oleh kualitas informasi yang beredar di tengah masyarakat.

“Di era digital, arus informasi sangat cepat. Jika hoaks tidak dikendalikan, bisa memicu kesalahpahaman hingga konflik sosial. Di sinilah peran jurnalis menjadi sangat penting,” ujarnya.

Menurutnya, media memiliki posisi strategis sebagai penyeimbang informasi sekaligus penjaga kondusivitas daerah. Oleh karena itu, kolaborasi antara aparat keamanan dan media perlu terus diperkuat.

Sementara, Kepala Seksi Pengelolaan Opini Publik Diskominfo Kalsel, Chairun Nimah. Ia menekankan pentingnya peran media dalam memverifikasi informasi sebelum disebarluaskan.

“Kami menyediakan kanal verifikasi informasi untuk membantu memastikan kebenaran berita. Media yang kredibel akan mendorong masyarakat menjadi lebih cerdas dalam menerima informasi,” katanya.[mia] 

Lebih baru Lebih lama