DARI pemburu madu liar menjadi pelestari lebah kelulut. Maskuni merawat koloni lebah di Istana Kelulut, Desa Haur Batu, Balangan, sebagai upaya menjaga alam sekaligus membangun sumber penghidupan keluarga.| foto : martin
PARINGIN - Suara dengung ratusan lebah berukuran mungil menyambut kedatangan saya begitu melangkah masuk ke areal perkebunan hijau di Desa Haur Batu, Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan. Tidak ada sengatan menyakitkan yang dikhawatirkan layaknya jenis lebah biasa. Lebah-lebah tanpa sengat (stingless bee) jenis Itama dan Thorasica ini tampak sibuk keluar-masuk sarang kayu yang tertata rapi di atas lahan asri milik Maskuni (52th).
Rabu sore, (4/11/2026), di tempat yang kini dikenal luas sebagai "Istana Kalulut" inilah, udara segar pedesaan berpadu dengan aroma manis khas propolis dan madu murni. Di teras pondok sederhana yang dikelilingi ratusan koloni lebah, Maskuni menyambut saya dengan senyum ramah khas warga Banua.
Sembari berjalan melewati Gapura yang bertuliskan Istana Kelulut yang merupakan bantuan Adaro serta jalan vaping blok yang dihiasi kiri dan kanan tanaman buah buahan nan asri, Secangkir air hangat bercampur sesendok madu kalulut murni disuguhkan di meja kayu di bawah gajebo yang juga merupakan hasil bantuan dari PT Adaro Indonesia, dari sinilah, obrolan santai namun penuh inspirasi mengalir, mengungkap kisah epik seorang pria paruh baya yang berhasil mengubah nasib alam sekaligus perekonomian keluarganya berkat sinergi bersama dunia usaha.
Titik Balik sang "Pemburu Liar"
Sembari merapikan salah satu kotak sarang lebah (stump), Maskuni mengenang masa lalunya dengan jujur. Sebelum menjadi pelopor budidaya seperti sekarang, ia adalah bagian dari rantai perusakan alam.
"Dulu, saya ini pencari madu liar di hutan-hutan sekitar Balangan dan Tabalong. Caranya ya dipikul atau dibelah begitu saja sarangnya, istilahnya panen ala beruang," kenang Maskuni sambil tertawa kecil, menyadari kekeliruan masa lalunya.
Metode destruktif itu melibatkan pembersihan kantong madu dengan membuang seluruh sarangnya, yang berakibat fatal pada kematian massal koloni lebah. Akibat perburuan liar yang masif dipicu tingginya permintaan pasar, populasi lebah kalulut di alam merosot tajam hingga di ambang kelangkaan.
Titik balik hidupnya bermula dari sebuah pengalaman personal. Penyakit lambung kronis yang bertahun-tahun dideritanya perlahan sembuh berkat rutin mengonsumsi madu kalulut. Dari situlah ia sadar bahwa madu berukuran mini ini kelak akan menjadi primadona kesehatan.
Namun, lonjakan permintaan justru membuat warga semakin beringas berburu ke hutan. Kegelisahan mulai menghantuinya. “Kalau terus begini, anak cucu kita tidak akan pernah lagi melihat lebah kalulut di hutan Balangan,” batinnya kala itu.
Tekad bulat pun dipancangkan. Pada mulanya, langkah Maskuni dianggap sebelah mata oleh warga desa. Ia bahkan dicap "aneh" dan "gila" karena berkeras ingin memelihara serangga liar yang diyakini masyarakat tidak akan bisa hidup jika dikurung atau dibudidayakan. Tanpa ilmu memadai, ia nekat mengambil 40 sarang dari hutan. Kegagalan demi kegagalan menghantam; teknik yang salah membuat banyak koloni mati. Namun, menyerah bukanlah kamus hidupnya.
Peruntungan Maskuni mulai berbalik ketika tahun 2019 ia dipertemukan dengan program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Adaro Indonesia. Sentuhan pembinaan dari perusahaan tambang terkemuka di Kalimantan Selatan ini menjadi angin segar sekaligus katalisator bagi pengembangan usahanya.
"Selain memperoleh bantuan permodalan, saya juga mendapatkan pendidikan bagaimana cara memproduksi yang higienis, teknik pengemasan (packaging), hingga strategi pemasaran," ujar ayah satu anak ini dengan mata berbinar.
Kehadiran program CSR PT Adaro Indonesia tidak hanya bertumpu pada aspek bisnis semata, melainkan merangkul misi konservasi lingkungan yang berkelanjutan. Melalui pendampingan intensif, perusahaan membantu para pelaku usaha lokal agar mampu mentransformasikan cara pandang masyarakat terhadap potensi alam dari eksploitasi menuju budidaya yang ramah lingkungan.
Dulu, Maskuni harus berjalan berhari-hari keluar-masuk hutan hanya untuk membawa pulang beberapa botol madu. Kini, di atas lahan hektaran miliknya, berdiri 350 koloni lebah madu kalulut yang dikelola secara profesional.
Dalam sebulan, Istana Kalulut mampu memproduksi 30 hingga 50 liter madu murni, bergantung pada dinamika alam dan ketersediaan pakan bunga di sekitarnya. Dari hasil panen tersebut, pundi-pundi rupiah mengalir deras untuk kesejahteraan keluarga.
"Alhamdulillah, dibantu pemasaran dari tim CSR Adaro dan media sosial, setiap bulannya omzet antara 25 sampai 30 juta rupiah bisa kami kantongi," ungkapnya, meski tak menampik bahwa masa pandemi sempat membuat usahanya terkoreksi hingga 50 persen.
Produk yang dihasilkan di Istana Kalulut terbagi menjadi dua varian unggulan yakni jenis Thorasica yang dibanderol Rp 400.000 per setengah liter, dan jenis Itama seharga Rp 200.000 per 500 ml.
Hebatnya lagi, jangkauan pasar Maskuni kini bukan lagi sekadar lokal Kabupaten Balangan dan Tabalong. Berkat jaringan pemasaran yang luas, madu kalulut produksinya telah terbang jauh melintasi pulau, dengan pangsa pasar terbesar di luar Kalimantan meliputi Pulau Jawa (khususnya Jakarta) hingga Sumatra.
Simbol Kemenangan Akal Sehat di Bumi Sanggam
"Baru-baru ini bahkan saya dapat orderan 20 liter dari kalimantan Timur, yang alasan konsumen membeli madu kalulut karna disaat kondisi kabut asap yang sempat melanda wilayah kalimantan dan mereka nilai mengkonsumsi madu kalulut bisa membantu menjaga daya tahan tubuh mereka,"ucapnya
Bagi Maskuni, madu kalulut bukan sekadar sumber penghidupan ekonomi atau obat alternatif penjaga stamina tubuh. Lebih dari itu, Istana Kalulut adalah simbol kemenangan akal sehat manusia dalam merawat bumi Banua.
Menutup perbincangan sore itu di bawah rindangnya pepohonan Desa Haur Batu, Maskuni menyampaikan secercah harapan tulusnya kepada pihak-pihak yang telah membersamainya.
“Bersyukur sekali bisa menjadi bagian dari mitra binaan Adaro. Semoga program seperti ini terus ada dan konsisten memberi manfaat nyata bagi pengusaha kecil seperti kami,” pungkasnya penuh optimisme.
Dari seorang pemburu yang tak sengaja merusak, Maskuni kini berdiri tegak sebagai pahlawan lingkungan lokal. Kisahnya membuktikan bahwa ketika komitmen pelestarian alam dipadukan dengan kolaborasi strategis bersama dunia usaha, kelestarian ekosistem dan kesejahteraan ekonomi masyarakat dapat berjalan seiring sejalan di bumi Balangan.
Hari beranjak sore, penulis pun beranjak pamit. Tanpa diduga, satu kantong kecil putih berisi dua botol madu kalulut diberikan Maskuni sebagai buah tangan sebuah oleh-oleh ketulusan, dengan harapan rasa dan khasiat madu kalulut dapat terus menyebarkan kebaikan bagi siapa saja yang menikmatinya.[martin]
Tags
balangan
