Terapkan Sistem Jarwo, Petani Tanah Laut Panen 6,7 Ton

PELAIHARI, MK - Di hari keempat panen padi varietas Inpara 32 ditanam dengan sistem Jajar legowo (jarwo), dicapai provitas 6,7 ton per hektare di lahan seluas 15 hektare oleh Kelompok Tani (Poktan) Lok Dampar Desa Sungai Riam Kecamatan Pelaihari Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, Minggu (3/5/2020).

Kegembiraan pun diungkapkan oleh Waluyo, Ketua Poktan Lok Dampar atas hasil panenan yang luar biasa ini. Provitas yang dicapai lebih tinggi dibanding dengan provitas di tempat lain.

“Ini luar biasa, saya kira belum ada provitas setinggi ini,” ujar petani berusia 50 tahun ini.

Panen yang sama dilakukan pada lahan seluas 5 ha dengan varietas  Inpari 30 yang ditanam dengan sistem tegel. Hasil ubinan diperoleh rata-rata 3,25 kilogram per petak atau setara 5,2 ton per hektare GKP.

Tidak dipungkiri jika Poktan ini dapat mengarungi gabah hasil panen tinggi, pasalnya tanaman padi dilakukan dengan sistem jajar legowo.

Berdasarakan teori, jajar legowo memang dapat memberikan hasil lebih tinggi dibanding sistem tegel. Benih yang digunakan adalah benih berlabel Impari 32.

Dalam pengelolaannya petani menggunakan ZPT (Gibgor 10 SP) yang diaplikasikan bersamaan dengan penggunaan fungisida untuk mengendalikan penyakit blast.

Sujayadi, Petugas Penyuluh Pertanian setempat menyebut 2 faktor itu merupakan kunci keberhasilan panenan kali ini adalah sistem tanam dengan jarwo dan penanaman dengan alsintan indojarwo transplanter.

Sebagaimana diketahui bahwa sistem tanam jajar legowo merupakan salah satu komponen pengelolaan tanaman terpadu yang sudah lama diperkenalkan. Namun, belum semua petani menerapkannya. 

Hanya 2 desa Sungai Riam dan Telaga yang secara luas menerapkan sistem jarwo.

Mesin tanam Indojarwo transplanter yang dimiliki kelompok menjadi pendukung terlasanakanya teknologi jajar legowo ini. Dengan kelembagaan yang kuat melayani pertanaman menyebabkan hampir semua petani menerapkan jarwo. 

Sujayadi menambahkan, dalam pengelolaannya tak luput dari gangguan. “Munculnya ulat grayak, yang andai tidak diwaspadai bisa terlambat pengendaliannya. Inilah yang dilakukan ole petani dengan aktivitas pengamatan secara rutin,” imbuh Sujayadi.

Diwawancarai jarak jauh, Tukirin, Mantri Tani Kecamatan Pelaihari  berharap dengan capaian panen yang tinggi ini, ke depan sistem jajar logowo dapat diperluas ke semua Poktan-Poktan di wilayahnya.

“Mudah-mudahan dengan provitas ini semakin banyak petani yang mau menerapkan jajar legowo. Karena jajar legowo selain menambah populasi juga lebih aman dari gangguan OPT dan memudahkan pengelolaannya,” tutur Tukirin.

Hal senada disampaikan oleh Saidillah, Koordinator BPP, bahwa bila petani semua mau menerapkan jarwo bukan tidak mungkin hasilnya juga akan tinggi. 

“Tidak ada yang sulit, karena meskipun tak memiliki alsintan Indojarwo tranplanter, tapi ada tersedia di kantor BPP (Brigade Alsintan). Itu bisa digunakan oleh siapa yang membutuhkan,” ujar Saidillah. 

Panenan akan berlangsung sepeken kedepan dengan peralatan combine harverster. Jajaran Petugas lapangan berharap agar peralatan panen tidak mengalami kerusakan.

“Kondisi peralatan panen masih termasuk bagus, tapi sepertinya nanti kalo ada pengadaan dari pemerintah perlu yang lebih baik kualitasnya,” pungkas Sujayadi.[advertorial]

Posting Komentar

0 Komentar