Gotong Royong, Penyuluh dan Petani Normalkan Saluran Air

KANDANGAN - Mengantisipasi krisis pangan yang diprediksi terjadi pasca pandemi Covid-19 seperti disampaikan Organisasi Pangan Dunia (FAO), Kementerian Pertanian di bawah pimpinan Menteri Syahrul Yasin Limpo (SYL) mempersiapkan kebijakan strategis menjelang masa transisi ini.

Kebijakan yang diambil antara lain dengan meningkatkan produktivitas bahan pokok, memperlancar distribusi pangan, mempermudah akses transportasi, menjaga stabilitas harga, dan mengembangkan buffer stock, serta intervensi pasar (operasi pasar).

Mentan SYL dalam webminar strategi ketahanan pangan new normal mengatakan, pandemi Covid-19 berdampak besar pada dinamika baru, seperti gangguan suplai pangan, penurunan permintaan produk pertanian, ancaman krisis pangan dan restriksi ekspor pangan global. 

SYL menyatakan, pertanian tidak bisa diolah dengan cara yang biasa saat masa new normal melainkan harus dilakukan dengan cara yang kreatif dan modern. 

”Harus ada inovasi dan ide-ide kreatif dalam mengelola pertanian,” ujar SYL.

Untuk mendukung kebijakan Kementan dalam mempercepat tanam, petani Kalimantan Selatan gencar dalam melakukan penanaman padi sawah. 

Diketahui sebanyak 2 Kelompok Tani (Poktan), yakni Poktan Langkah Baru dan Padang Hariung di Desa Karang Jawa, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) telah melakukan kegiatan olah tanah dan tanam padi varietas Inpari 42 dengan luasan lahan 60 hektare.

Untuk mempercepat kegiatan tanam para petanii mengunakan Alsintan Hand Tractor dan TR 4 dalam proses pengolahan lahan. Petani HSS berterima kasih kepada Penyuluh yang tetap mendampingi mereka saat berkegiatan di lapangan.

Kordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Padang Batung, Endah Susilowati SP melaporkan, saat ini umur padi 1 bulan jadwal semai dilakukan pada awal musim hujan dan posisi air masih di bawah permukaan tanah, penebaran benih agak dijarangi agar bibit tumbuh tetap sehat.

“Musim hujan sangat berpengaruh pada jadwal tanam sehingga tanam tidak bisa serempak dan berpengaruh di musim kemarau,” terang Endah.

Penyuluh pendamping, Jumali menambahkan, untuk Poktan Langkah Baru masalahnya hampir sama dengan Poktan Padang Hariung, yaitu kontur tanahnya, yang mana posisi lahan agak ke pinggir.

Alhasil, jadwal tanam selalu tertinggal karena air tidak bisa naik lantaran selalu mengandalkan air hujan. Kondisi tersebut juga berpengaruh di musim kemarau.

"Yang tertinggal di musim hujan tidak bisa lagi tanam dibmusim kemarau,” ungkap Jumali.

Untuk mengantisipasi permasalahan pengairan tersebut, penyuluh bersama petani bergotong royong melakukan gerakan penormalan fungsi saluran air tersier dengan cara pemasangan pipa.

"Karena tidak ada pintu air di posisi pipa tersebut, maka dibuat saluran sepanjang kurang lebih 250 meter. Tetapi sampai saat ini belum selesai karena sok pipa belum ada. Namun kami tetap semangat mengamankan tanaman padi milik petani," jelas Jumali.
 
Dalam kesempatan lain, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi menyampaikan, pandemi Covid-19 telah mengganggu sektor pertanian. 

Sebut saja, seperti sektor produksi, distribusi, bahkan pemasaran. Dampaknya adalah pertumbuhan ekonomi yang juga mandek. Selain itu, FAO juga telah memperingatkan adanya ancaman musim kemarau panjang yang bisa berdampak pada krisis pangan.

Dedi meminta penyuluh tetap turun ke lapangan mendampingi petani, turun ke sawah dan mendorong petani melakukan percepatan tanam menggunakan sistem pengolahan tanam menggunakan varietas benih yang baik dan gunakan Alsintan. 

Selain itu, Dedi juga menganjurkan penyuluh pertanian dalam tatanan new normal wajib menggunakan masker, menjaga jarak, cuci tangan, rutin berolahraga, tidak melakukan kontak fisik. 

Sementara di tempat kerja harus ada pengaturan jam kerja yang tidak panjang, bila tidak sehat bekerja di rumah, area kerja higienis, sering cuci tangan, gunakan hand sanitizer, mengatur asupan nutrisi makanan yang cukup dan jaga jarak.[advertorial]