Partisipasi di Food Estate, Komunitas Dayak Turut Ikuti Pelatihan

PULANG PISAU - Pemerintah Pusat berkomitmen meningkatkan ketahanan pangan nasional jangka panjang dengan membangun Food Estate atau lumbung pangan.

Melansir https://indonesia.go.id/, Food Estate merupakan konsep pengembangan pangan yang dilakukan secara terintegrasi mencakup pertanian, perkebunan bahkan peternakan di suatu kawasan.

Salah satu kawasan Food Estate merupakan bekas Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PPLG) sejuta hektare yang sekarang masuk dalam administratif Kabupaten Pulang Pisau dan Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah. 

Untuk mendukung program Food Estate, Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang melaksanakan Pelatihan Tematik Pengelolaan Lahan Rawa di posko induk Food Estate Desa Belanti Siam, Kecamatan Pandih Batu, Kabupaten Pulang Pisau. Pelatihan dilaksanakan pada 16 hingga 18 September 2020

Sebagian besar masyarakat yang terlibat dalam program strategis nasional ini warga eks transmigrasi 1980-an. Dari 32 peserta pelatihan yang merupakan wakil dari beberapa kelompok tani dari 2 kecamatan, yaitu Kecamatan Pandih Batu dan Maliku, terdapat 4 peserta yang merupakan warga lokal Dayak. 

Keempatnya merupakan Ketua Kelompok Tani (Poktan) yang berbeda dari Desa Sei Baru Tewu, Kecamatan Maliku.

“Kami senang dapat berpartisipasi dalam program food estate ini,” tegas Ramba Badowo, Ketua Kelompok Tani, Kaharap Itah.

“Kami berharap pemerintah dapat melihat keseriusan kami dalam mendukung program ini sehingga kami dapat diberikan tambahan alsintan, perbaikan jaringan irigasi dan pembangunan jalan usaha tani,” imbuh Suwardi, Kelompok Tani Barania

Rusie, penyuluh pertanian yang mendampingi peserta dari Sei Baru Tewu mengatakan, luas lahan hasil CPCL Food Estate di desa tersebut seluas 25 hektare.

“Lahan yang potensial untuk pengembangan Food Estate mencapai 90 hektare hasil cetak sawah tahun 2012 sampai 2014. Namun sekarang lahan tersebut belum produktif sehingga banyak ditumbuhi ilalang. Ke depan lahan tersebut akan dimasukkan dalam program ini,” jelas Rusie.

Ditemui di tempat yang sama, Harijanti, koordinator penyuluh BPP Pandih Batu mengatakan, wilayah kerjanya yang mayoritas Dayak terletak di Desa Karya Bersama. 

“Hasil CPCL di Desa Karya Bersama untuk Food Estate seluas 65 hektare yang juga merupakan lahan rawa pasang surut,” kata Harijanti.

“Tantangan yang dihadapi di komunitas Dayak adalah keterbatasan Alsintan dan kapasitas masyarakat dalam budidaya pertanian,” imbuh Harijanti.

Hal ini dibenarkan oleh Tiwu, ketua kelompok Karuhei. “Kami baru memulai bertani intensif pada tahun 2014. Sehingga kami membutuhkan pendampingan dan pelatihan seperti ini,” imbuhnya.

Saat ini, komunitas Dayak di Sei Baru Tewu masih menanam padi lokal dengan sekali tanam dalam setahun. Pernah mencoba menanam padi unggul, namun gagal karena berbagai kendala.

“Pengelolaan lahan rawa yang tepat dan diagnosa sesuai permasalahannya dapat meningkatkan produktifitas komoditas pertanian dengan tetap berprinsip pada pertanian berkelanjutan,” jelas Aman Nurrahman Kahfi, Widyaiswara BBPP Binuang dalam pelatihan ini.[kahfi]

Posting Komentar

0 Komentar