Mahal, Elpiji 3 Kg Diduga Dijual ke Daerah Lain

KUALA KAPUAS - Dalam sebulan terakhir, gas elpiji 3 kilogram bersubsidi di wilayah Kuala Kapuas mulai kerap terjadi kekosongan. Jika pun ada, itu juga didapat dengan harga tinggi dan bukan dari pangkalan tetapi dari pengecer tidak resmi yang tidak ada dalam aturan untuk alur distribusi gas bersubsidi itu.

Kemahalan harga dan kelangkaan gas bersubsidi itu akibat kacau balaunya alur distribusi, dan diduga kuat gas 3 kg oleh oknum pangkalan-pangkalan nakal yang dijual kepada pengecer tak resmi.

Parahnya lagi gas subsidi jatah masyarakat miskin tersebut malah dijadikan ladang bisnis dijual hingga ke wilayah lain.

Plt Kepala Disdagperinkop dan UKM Kapuas, Batu Panahan SH dikonfirmasi, Kamis (25/2/2021) mengatakan, pihaknya tak menampik bahwa kemahalan dan kelangkaan elpiji bersubsidi permasalahannya ada di tingkat pangkalan.

"Karena pangkalan memang membagikan habis kepada masyarakat, kalau itu masyarakat berdomisili di RT setempat tidak masalah. Tetapi mereka posisinya juga menjual ke luar, mereka menjual pun di atas harga eceran tertinggi (HET) yang sudah ditetapkan, temasuk juga pengecer menjual dengan harga tinggi," ungkap Batu Panahan.

Seharusnya, kata dia, pangkalan hanya menyalurkan elpiji bersubsidi itu kepada warga yang berhak menerima, tidak menjual kepada pengecer tak resmi maupun kios atau warung.

"Karena keberadaan pangkalan berdiri adalah embrionya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kurang mampu di RT setempat," tandasnya.

Menyikapi hal itu, pihaknya segera menindaklanjuti melalui tim melakukan pengawasan sekaligus penindakan, jika terbukti pangkalan mendisribusikan elpiji subsidi tidak sesuai aturan dan ketentuan akan diambil tindakan tegas sanksi peringatan hingga pencabutan izin operasional pangkalan.

Sementara itu, dari pantauan di lapangan pada beberapa pangkalan, gas 3 Kg saat ini sedang kosong, bahkan pada pengecer tidak resmi sulit didapatkan.

"Jika pun ada harga gas 3 kg ini harganya kisaran Rp32 Ribu sampai Rp36 Ribu itu baru di dalam kota, belum lagi harga di kecamatan-kecamatan lain," kata Nanang, salah satu warga Kapuas.

Dirinya juga mengaku heran gas melon di pangkalan sulit didapat, tetapi malah menjamur pada kios dan warung.[zulkifli]

Posting Komentar

0 Komentar