Kisah Ganjar Pranowo, Kamera Bapaknya, dan Taufik Kiemas

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo ketika membuka sebuah pameran fotografi di Borobudur, Magelang, Sabtu (16/11/2013). | Foto: Sahrudin

PARMUJI adalah kepala unit identifikasi di kantor polisi Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah. Bertugas di bagian ini, membuat Parmuji harus berkawan dengan kamera dan roll film. Rekonstruksi, gelar perkara, macam-macam kejadian terkait tindak kriminal, kudu ia dokumentasikan.

Namun, sisa film dari kamera yang dipakai Parmuji tak selalu aman. Anaknya yang nomor lima, tidak bisa melihat kamera nganggur.      

"Filmnya masih ada berapa, Pak?" tanya si anak.

"Tujuh, tujuh jepretan", jawab Parmuji.

Terang saja, bocah lelaki itu girang bukan kepalang. Dan di saat Parmuji lengah, diambillah kamera analog itu: jebret-jebret-jebret... 

Tapi itu cerita lama, hampir 40 tahun silam. Anak nomor lima Parmuji itu; anak yang tak bisa melihat kamera nganggur itu; bocah lelaki yang suka memakai sisa film dari kamera bapaknya itu; sudah jadi Gubernur Jawa Tengah sejak 2013.

"Saya dendam. Saya harus bisa beli kamera sendiri", kenang Ganjar Pranowo.

Sang ayah, Parmuji, meninggal dunia pada Senin, 3 April 2017 di Yogyakarta.

Belakangan, ketika sudah mampu beli, nyatanya Ganjar malah jarang menggunakan kameranya.

"Jebret-jebret sebentar saja, karena nggak punya waktu lagi", ungkap pria kelahiran Tawangmangu, Karanganyar, 28 Oktober 1968 ini.     

Kendati tak akrab lagi dengan kamera, Sarjana Hukum lulusan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu tetap punya pandangan kritis mengenai fotografi.

"Kamera ya gitu-gitu aja bentuknya. Tapi ketika orang punya angle berbeda dan imajinasi berbeda, jepretannya itu pasti berbeda", ucap Ganjar. 

Sebuah foto tanpa kalimat, lanjut dia, kadang justru menyiratkan makna yang dahsyat.

Ganjar punya kenangan lain dengan fotografi. Oleh seorang wartawan di Jakarta, ia pernah dipotret bersama Taufik Kiemas (alm), suatu hari di penghujung Mei 2013. 

Saat difoto, Ganjar dan Taufik diminta mengacungkan ibu jari, telunjuk dan jari kelingking. Alhasil, terciptalah foto "salam tiga jari" dari kedua tokoh itu.

"Metal!" serunya.

Bagi Ganjar, foto itu punya makna tersendiri. 

"Sangat mendalam. Dalam sekali", kenangnya.

Karena, itulah momen pertemuan terakhirnya dengan Taufik Kiemas, sebelum suami mantan Presiden Megawati itu menghembuskan napas terakhir pada 8 Juni 2013.[sahrudin]