The Long March: 71 Tahun Perjalanan Film Nasional

Leaflet "Darah dan Doa" (The Long March), film yang diproduksi pada 1950. | Repro: Majalah HAI.

HARI ini, tepat 22 tahun lalu, Presiden BJ Habibie (almarhum) menetapkan tanggal 30 Maret sebagai Hari Film Nasional. Penetapan ini dilakukan melalui Keputusan Presiden Nomor 25 tahun 1999, yang dikeluarkan pada 29 Maret di tahun tersebut.

Dipilihnya 30 Maret sebagai Hari Film Nasional, didasarkan pada dimulainya syuting "Darah dan Doa" (The Long March), pada 30 Maret 1950. Film ini lahir dari dua sosok yang kemudian dinobatkan sebagai Bapak Perfilman Nasional, yaitu Usmar Ismail dan Djamaluddin Malik.

Usmar Ismail (1921-1971) merupakan pendiri sekaligus pemilik Studio Perfini, atau Persatuan Film Nasional Indonesia. Ia diabadikan sebagai nama gedung perfilman di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

Adapun Djamaluddin Malik (1917-1970), pendiri dan pemilik Studio Film Persari, kependekan dari Persatuan Artis Indonesia. Kedua tokoh itu, Usmar Ismail dan Djamaluddin Malik, sama-sama berasal dari Minangkabau.

Jauh sebelum lahirnya Keputusan Presiden Nomor 25 tahun 1999, Dewan Perfilman Nasional telah lebih dulu mengeluarkan Surat Keputusan pada 11 Oktober 1962. Isinya, menetapkan tanggal 30 Maret sebagai Hari Perfilman Nasional. 

Tiga dasawarsa kemudian, yakni pada 30 Maret 1992, Presiden Soeharto menandatangani Undang-undang Nomor 8 tahun 1992 tentang Perfilman.

Ditetapkannya 30 Maret sebagai Hari Film Nasional, sekaligus merupakan penobatan Darah dan Doa (The Long March) sebagai film pertama karya anak bangsa, yang diakui oleh pemerintah berikut insan perfilman nasional.

Namun, jauh sebelum film ini diproduksi, sesungguhnya pernah lahir beberapa karya yang tak kalah penting dalam perjalanan industri film Tanah Air. 

Hanya saja, karena berbagai macam pertimbangan, film-film itu dinilai tidak layak untuk dijadikan tonggak sejarah Hari Film Nasional.

Beberapa film tersebut, antara lain: Tjerita Njai Dasima (1896), Loetoeng Kasaroeng (1926), Eulis Atjih (1927), Lily van Java (1928), Njai Siti atau De Stem de Bloeds (1930) sampai film horor Tengkorak Hidoep (1941), dan sejumlah karya lainnya.[sahrudin]