Aramco: Berawal dari 5,7 Liter Minyak

Kilang Haradh, berada di ujung selatan Ghawar, Arab Saudi, ladang minyak konvensional terbesar di dunia yang dimiliki Aramco. | Foto: Aramco.

SAUDI Arabian Oil Company, atau cukup disingkat Aramco, adalah perusahaan migas (minyak bumi dan gas) yang berbasis di Dhahran, Arab Saudi. Beroperasi di lebih dari 50 negara, menjadikan perusahaan ini sebagai satu diantara beberapa raksasa migas dunia.

Aramco memiliki anak-anak perusahaan yang berkantor di 14 kota di Asia, Amerika, dan Eropa. Perjalanan bisnis perusahaan ini juga didukung dengan pendirian pusat-pusat penelitian, yang tersebar di 11 negara. 

Dikutip dari Gulf News dan laman resmi Aramco, jumlah pekerja terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2015, perusahaan ini menaungi kurang lebih 65 ribu staf dan karyawan.

Angka ini naik menjadi sekitar 75 ribu orang di tahun 2017. Data terakhir, 2020, Aramco mempekerjakan tidak kurang dari 96 ribu pegawai.

Perusahaan-perusahaan terbesar yang saat ini menjadi pesaing Aramco, antara lain: Sinopec atau China Petroleum and Chemical Corporation, Royal Dutch Shell, bp plc, Exxon Mobil Corp, dan beberapa nama lainnya.

SEJARAH Aramco bermula pada 1933, tatkala Arab Saudi menandatangani perjanjian kerjasama dengan Socal (Standard Oil Company of California). Dari kerjasama ini, kemudian lahirlah anak perusahaan yang dinamai Casoc (the California Arabian Standard Oil Company).

Para pekerja Casoc memulai pengeboran minyak pada 30 April 1935, di suatu kawasan padang pasir bernama Dammam. 

Mereka, berturut-turut, membuat sebanyak enam sumur di areal tersebut. Sumur-sumur itu dinamai Dammam No 1, Dammam No 2 sampai Dammam No 6.

Namun, setelah sekitar 1,5 tahun pengeboran, hasil yang didapat ternyata tidak sesuai harapan. Socal kemudian meminta masukan dari kepala geolog mereka, Max Steineke. 

Setelah melakukan survei mendalam, pada Desember 1936 Steineke memerintahkan para pekerja untuk menggali Dammam No 7, alias sumur ketujuh. Ini merupakan titik pengeboran baru, yang berlokasi di jabal (bukit/gunung) Dhahran. 

Saran Steineke ternyata manjur. 

Ketika pengeboran berjalan sekitar 10 bulan, pada kedalaman kira-kira 1.097 meter, minyak mulai keluar dari sumur tersebut. Jumlahnya masih sangat sedikit: 5,7 liter.

Penghujung 1937, tatkala pengeboran mencapai 1.382 meter, bahkan samasekali tak ada minyak yang keluar dari sumur itu. 

Tapi Casoc tidak menyerah.

Pekan pertama Maret 1938, pada kedalaman kira-kira 1.440 meter, Dammam No 7 mulai menghasilkan minyak komersial. Melalui titik pengeboran ini, minyak bumi yang didapat bisa mencapai 3.810 barrel perhari.

Dammam No 7, yang menjadi "Sumur Kemakmuran" bagi Aramco, terus menghasilkan minyak bumi hingga tahun 1982. Hasil yang diperoleh dari satu titik ini saja, mencapai kira-kira 32 juta barel minyak bumi.


HARI ini, Aramco memiliki 260 miliar barel cadangan minyak bumi terbukti (proven oil reserves). Belum lagi cadangan gas bumi, yang diketahui mencapai 300 triliun kaki kubik. 

Sepanjang 2020, produksi hidrokarbon Aramco rata-rata mencapai 12,4 juta barel perhari setara minyak, termasuk 9,2 juta barel perhari minyak mentah.

Dengan hasil itu, Aramco sukses membukukan pendapatan bersih 49 miliar USD di tahun tersebut. Pencapaian ini menjadikannya sebagai perusahaan terbuka dengan net income tertinggi secara global.

Presiden sekaligus CEO Aramco, Amin H Nasser melalui siaran pers tertulis (21/3/2021) mengatakan, gempuran pandemi Covid-19 sangat berpengaruh terhadap kinerja perusahaannya, di semua lini. 

"Pendapatan kami terdampak oleh rendahnya harga minyak mentah dunia. Volume penjualan menurun, begitu pula keuntungan dari kilang dan sektor kimia kami", terang Amin Nasser.

Dalam kondisi yang serba tidak menguntungkan itu, kondisi finansial perusahaan tetap menunjukkan ketangguhannya. Performa Aramco terlihat dengan dibagikannya dividen sebesar 75 miliar USD pada 2020. 

Rasio pengembalian modal rata-rata yang digunakan (ROACE) 13,2 persen, menjadikannya yang tertinggi dalam industri ini. Pengeluaran modal (capital expenditure) tercatat 27 miliar USD, lebih hemat dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 33 miliar USD.


ARAMCO yang merupakan spesialis di sektor hulu, juga dikenal memiliki jaringan kokoh di lini hilir.

Juni 2020, perusahaan ini sukses mengakuisisi 70 persen saham SABIC (Saudi Basic Industries Corporation) dari PIF (Public Investment Fund) senilai 69,1 miliar USD. 

Transaksi ini merupakan langkah penting, untuk mengintegrasikan kekuatan di sektor hulu dan hilir perusahaan tersebut.

Aramco, pada Desember 2019, mengambil alih 17 persen saham Hyundai Oilbank, perusahaan minyak dan kilang yang berbasis di Seosan, Korea Selatan, senilai 1,2 miliar USD. 

Setengah dari keseluruhan saham ARLANXEO Holding, salah satu produsen karet sintetis terbesar di dunia yang bermarkas di Maastricht, Belanda, juga dikantongi Aramco.

Motiva Chemicals, industri pengolahan minyak sekaligus bahan kimia yang berpusat di Houston, Texas, AS, bahkan telah sepenuhnya dimiliki Aramco melalui anak perusahaannya, Saudi Refining, Inc.[sahrudin]