BBPP Binuang Ikut Berkontribusi Wujudkan Inovasi Food Estate 2021

RANTAU – Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang berinovasi melalui kegiatan pengembangan profesi para widyaiswaranta bersama penyuluh pertanian dan petani. Ini tak lain untuk mewujudkan dan mengoptimalkan inovasi spesifik lokasi di wilayah Food Estate. 

Pada kesempatan ini, BBPP Binuang mengadakan pelatihan tematik berbasis korporasi untuk mendukung Food Estate. Pelatihan diikuti 30 peserta dari kelompok penangkar benih dan penyuluh pertanian dengan mengambil lokasi di BPP Pangkoh, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan tengah. Materi pelatihan sendiri, yakni tentang Produksi Benih Tanaman Padi. 

Inovasi yang dimaksud antara lain disain tanam model Tujuh Sisi Blok (TSB). Keunggulan inovasi ini antara lain menghemat biaya tenaga kerja hingga 45% dan penggunaan benih menghemat  30 hingga 60% dibanding model yang telah dilakukan oleh petani (Tegel dan Tabela). Produktivitas yang relatif lebih baik yaitu 27 sampai 35% lebih tinggi. 

"Adapun dengan model jajarlegowo pada kesempatan ini sedang dilakukan kaji widya, insya Allah  4 bulan yang akan datang kita informasikan," papar Kepala BBPP Binuang, Dr Ir Yulia Asni Kurniawati M.Si.

Budiono, Widyaiswara BBPP Binuang memaparkan, model Tujuh Sisi Blok (TSB) merupakan modivikasi model yang sebelumnya, yaitu Jajarlegowo doble.

Penanaman dengan fokus pada blok blok micro yaitu pada blok dengan populasi 7 x 7 baris dan antar blok berjarak 40 sampai 50 sentimeter seolah menjadi batas pematang bayangan. 

Adapun jarak tanam di dalam blok berjarak 20 sentimeter dengan populasi 2 sampai 3 tanaman/rumpun. Sehingga jika diamati dari atas lahan seolah-olah ada petakan petakan mikro yang berukuran  120 sampai 140 sentimeter x 120 hingga 140 sentimeter yang dipisahkan pematang selebar 40 sampai 50 sentimeter. 

"Inspirasi ini kita bisa dapat saat kita amati kenapa barisan tanaman padi 1 sampai 1,5 meter dari pematang pertumbuhannya lebih baik dan produktif. Jika dibandingkan barisan yang berada di barisan petakan di tengah lahan/jauh dari pematang," jelasnya.

Menurutnya, kesan pemborosan lahan dengan berkurang jumlah titik tanam (rumpun asal). Namun pada hasil akhir panen jumlah populasi tanaman produktif lebih banyak, berdasarkan pengalaman penerapan dibeberapa lokasi sejak 2001 hingga sekarang, menunjukkan rumpun produktif mencapai 12 sampai 17 tanaman, jumlah gabah dalam malai 171 sampai 312 gabah.

Rendemen gabah menjadi beras pada musim hujan mencapai 55,9 sampai 63,5% dan saat musim kemarau mencapai 60.1 sampai 72.6%. 

Uji terap ini dilakukan di beberapa kabupaten di Jawa Timur dan Jawa Tengah, antara lain Ngawi, Sragen, Tuban, Lamongan, Malang dan Banyuwangi, dari tahun 2001 hingga 2006. 

"Kesempatan pada kegiatan Food Estate tahun 2021 di Kabupaten Pulang Pisau diadakan pelatihan tematik produksi benih, diadakan praktik lapang ditindaklanjuti sebagai lahan kaji widya seluas 1 hektare, mulai 6 April sampai 20 Agustus 2021," papar Budiono.  
 
Ia berharap kesuksesan sebelumnya dapat diwujudkan minimal mampu mengoptimalkan produktivitas, mutu panen dan peningkatan pendapatan petani melalui beberapa penghematan biaya sarana produksi baik tenaga kerja,benih, pupuk dan waktu panen.  

“Apalagi Mentan Dr Syahrul Yassin Limpo dengan kebijakan dan program Kementerian Pertanian RI , untuk senantiasa berinovasi dan kreatif dalam memberdayakan petani untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya yang pada akhirnya swasembada pangan dapat diwujudkan dan berkelanjutan melalui Kegiatan Food Estate,” pungkas Budiono.[rilis]