Lebih Tua Ketimbang New York, Kota Magelang Rayakan HUT Ke-1115

Kawasan pusat Kota Magelang, Jawa Tengah, dipotret dari udara, Maret 2021. | Foto: Sahrudin.

SEANDAINYA di Indonesia ada kompetisi "tua-tuaan" kota atau kabupaten, tentulah Kota Magelang akan selalu jadi juara harapan pertama. Kota yang dibelah oleh Sungai Manggis ini hanya kalah tua oleh Palembang, Salatiga dan Kediri.

Kota Magelang memulai sejarahnya lewat sebuah prasasti bernama Mantyasih, bertarikh 829 Caka/Saka atau 906 Masehi. Prasasti ini diyakini dibuat pada masa kekuasaan Ratu Sri Maharaja Dyah Balitung dari Kerajaan Medang. 

Hari ini, Minggu (11/4/2021) Kota Magelang genap berusia 1.115 tahun. Dilihat dari angkanya, sudah jelas, kota ini jauh lebih tua dibanding ibukota negara kita, Jakarta, yang pada bulan Juni nanti "baru" akan merayakan HUT ke 494.

Angka umur Kota Magelang pun jauh lebih sepuh ketimbang Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang enam bulan mendatang akan memperingati HUT Kemerdekaan ke 76.

Tidak mengherankan jika kota yang berada diantara Sungai Progo dan Elo ini, menjadi salah satu diantara beberapa kota teruzur di Tanah Air.

Bukannya bercanda, Kota Magelang bahkan jauh lebih tua daripada New York (397 tahun), Tokyo (153 tahun), maupun Amsterdam (746 tahun), ibukota negara yang dulu menjajah kita selama 3,5 abad.

Senioritas Kota Magelang juga terlihat di bidang olahraga, khususnya sepakbola.

Klub kebanggaan warga kota ini, PPSM (Perserikatan Paguyuban Sepakbola Magelang), sudah ada sejak 102 tahun silam. Ia dibentuk pada 15 Maret 1919, dengan nama IVBM (Indonesische Voetbal Bond Magelang).

Sekali lagi, jika bicara angka umur, tentulah Persib Bandung, Persija Jakarta, Arema Malang, Persebaya Surabaya, Barito Putera Banjarmasin, sampai Persipura Jayapura, adalah juniornya PPSM. Kendati, klub berjersey oranye ini masih saja betah bertengger di kasta terbawah persepakbolaan Tanah Air.

Diwakili oleh EA Mangindaan, PPSM pula yang turut membidani lahirnya PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) pada 19 April 1930 di Yogyakarta.


TERLEPAS dari umur tuanya, Kota Magelang ternyata merupakan salah satu kota dengan wilayah terkecil di Indonesia. 

Luasnya hanya 18,12 kilometer persegi, dan jumlah penduduknya telah melebihi angka 121 ribu jiwa.

Dengan tingkat kepadatan penduduk 7.361 orang per-kilometer persegi, menjadikan Kota Magelang sebagai daerah terpadat kedua di Jawa Tengah setelah Surakarta.

Yang harus diketahui, Kota Magelang berbeda wilayah dengan "adiknya", Kabupaten Magelang. Tanggal 22 Maret lalu, Kabupaten Magelang yang beribukota di Mungkid, baru merayakan HUT-nya yang ke 37. 

Padahal, sejarah kepemerintahan Kabupaten Magelang sebenarnya telah dimulai sejak 1812, dengan Bupati pertama Danoeningrat I, atau Alwi bin Sa'id Abdar Rahim Bach Caiban.

Tetapi entah mengapa, kabupaten yang luasnya hampir 60 kali lipat dibanding Kota Magelang ini, justru memilih peresmian Mungkid pada 22 Maret 1984 sebagai tonggak sejarah kelahirannya.

Kota Magelang, yang sampai saat ini masih bertahan dengan tagline Kota Sejuta Bunga, juga pernah memiliki slogan lain: Kota Harapan. Ini kependekan dari Hidup, Aman, Rapi, Asri dan Nyaman.

Tulisan slogan ini, antara lain pernah terpampang di sebuah monumen kecil di perempatan shopping center, di sebelah barat Pasar Rejowinangun.

Julukan Kota Harapan bertahan sampai pasca-pergantian jabatan walikota, dari Fahriyanto kepada Sigit Widyonindito, beberapa saat setelah 2010.

Adapun Walikota Magelang saat ini, dr Muchammad Nur Aziz, Sp.Pd., merupakan walikota ke 14. Mulai Jumat (26/2/2021), ia menggantikan Sigit Widyonindito, yang telah memimpin Kota Magelang selama dua periode.


DIRUNUT dari sejarah pemerintahannya, R Suprojo Projowidagdo adalah walikota pertama yang memimpin Magelang, yakni pada 1945.

Istilah "walikota" untuk menyebut jabatan pemimpin pemerintahan di Kota Magelang, digunakan mulai 1945 hingga 20 tahun kemudian. 

Pada 1965-1995, istilah walikota diubah menjadi "walikotamadya". Namun seiring bergantinya aturan perundang-undangan, "walikota" kembali dipergunakan sampai saat ini.

Sejarah kepemimpinan pemerintahan Kota Magelang, sesungguhnya bukan hanya bermula di tahun 1945.

Jauh sebelum itu, Kota Magelang tercatat pernah memiliki pemimpin pemerintahan dengan sebutan lain. 

Antara tahun 1906 hingga 1929, pemimpin Kota Magelang disebut dengan "Asisten Residen Merangkap Dewan Wilayah".

Pada kurun masa ini, sempat terjadi pergantian pemimpin sebanyak tujuh kali, mulai dari Ter Muelen sampai J De Vries.

Periode berikutnya, pemerintahan Kota Magelang dikepalai oleh pejabat "Burgemeester", sejak 1929 sampai 1942. Kemudian dari 1942 hingga tiga tahun berikutnya, Kota Magelang dipimpin oleh pejabat "Si Cho". 

Kendati istilah "Si Cho" terkesan Tionghoa, ternyata jabatan tersebut diduduki oleh seorang keturunan Minahasa bernama BB Tungka, dan dilanjutkan oleh orang Jawa bernama R Gondo Merto Soeprojo.[sahrudin]