Melalui BBPP Binuang, BPPSDMP Berkolaborasi dengan Komisi IV DPR RI Selamatkan Sumber Devisa Negara Komoditas Pisang

PROGRAM Food Estate telah digulirkan bagai dua sisi mata uang, berperan untuk percepatan memakmurkan petani dan Swasembada pangan nasional, dilahan sub optimal. 

Dalam arti luas ruang lingkup “Food Estate” tidak hanya mencakup komoditas padi, jagung dan palawija semata, namun semua komoditas yang menyediakan bahan pangan. 

Salah satunya yang masih dipandang remeh, padahal tanaman ini merupakan tanaman yang kaya karbohidrat, vitamin, mineral, dan nutrisi kesehatan bagi manusia. Apalagi di era pandemi Covid-19. 

Bahan pangan ini bahkan sudah menjadi pangan yang merakyat dan sejak masa sulit pangan dan paceklik di era revolusi fisik dan era penjajahan, telah banyak menjadi juru selamat bagi rakyat.

"Komoditas tersebut adalah Pisang,” ungkap Budiono saat menjadi narasumber Bimbingan Teknis di BPP Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur pada tanggal 22 Maret 2021. 

“Kegiatan ini tak akan berlangsung jika tidak ada perhatian dan dukungan dari Komisi IV DPR RI, melalui BPPSDMP telah menggelontorkan anggaran aspirasi G Budisatrio DJiwandono MSi Wakil Komisi IV DPR RI, di saat minimnya anggaran pelatihan untuk UPT karena recofusing anggaran pandemi Covid-19," paparnya. 

Pada saat pembukaan berkesempatan beliau memberikan pengarahan dan motivasi secara online/zoom, untuk senantiasa memajukan sektor pertanian yang memang realitanya mampu menjadi fondasi ketahanan ekonomi bangsa di saat pandemi Covid-19 dengan pertumbuhan plus yaitu 15.2%, dibanding sektor lainnya justru mengalami minus.

Kepala BBPP Binuang, Dr Ir Yulia Asni Kurniawati M.Si menambahkan, BBPP Binuang mendorong Gakpotan/FK P4S Kalimantan Timur, dan merealisasikan peluang ekspor.

"Dan ini sudah dibuktikan di mana pada tahun 2019 telah berhasil ekspor pisang ke Malaysia. Melalui pelabuhan Samarinda menuju Malaysia," jelas Yulia.

Komoditas ini sejak dekade 1990-an, tanaman ini banyak mengalami hambatan bahkan hingga mengganggu ekspor hingga pasokan dalam negeri mengalami tekanan dari pisang impor.

Setelah dipelajari, penyebab utama merosotnya produksi pisang pada tahun 2002-2003; 2009-2010 dan 2014-2015 sebesar 63% disebabkan kerusakan tanaman pisang oleh serangan penyakit Fusarium Oxysporoum dan Pseudomonas solanacearum. 

Memperhatikan hal tersebut pada kesempatan ini, artikel yang disusun berdasarkan hasil kajian, pengalaman lapangan dan prospek ekspor dimasa datang untuk mendongkrak percepatan pemulihan ekonomi, ketahanan pangan dan devisa negara. Pengendalian penyakit ini harus dilakukan secara masif dan terkoordinasi secara serempak.

Sementara itu, Menteri Pertanian Syahrul Yassin Limpo mengatakan, semangat untuk terus mendongkrak pertumbuhan ekspor hingga tahun 2024 mencapai 300% harus terus disosialisasikan dan direalisasikan melalui implementasi dengan karya karya nyata dan tantangan  bagi segenap insan pertanian.

Hal senada juga sering disosialisasikan Kepala BPPSDMP, Prof Dr Dedy Nursyamsi.

 
Pengendalian penyakit, harusnya Sederhana, Aman, Cepat, Ampuh, dan Mudah (SACAM) dikontrol keberhasilannya. Salah satunya yang ditawarkan narasumber adalah pemanfaatan pestisida nabati untuk mengendalikan penyakit ini.

Saat bimbingan teknis, Budiono yang juga Widyaiswara BBPP Binuang pada 22 Maret  2021 menyampaikan cara pembuatan dan penerapan di lapangan, sebagai berikut:

1. Bahan
• Minyak Cengkeh/kayu putih  =  5%
• Daun pepaya                             =15%
• Bawang Putih                            =15%
• Daun Mimbo                             =10%
• Laos                                            =10%
• Asap Cair                                   =   1%
• Air                                               = 44%

2. Alat
Panci/dandang               = 1 buah
Pisau               = 2 buah
Saringan/filter               = 1 buah 
Blender                                           = 1 buah
Suntikkan 10 cc                             = 2 buah

3. Cara
 

4. Penerapan pengendalian
Hasil Blender  siap di sedot dengan pipet suntik 10 cc. 

Suntikkan ke batang tanaman pisang 30 cm dari permukaan tanah, ditusukkan kedalaman 2-5 cm sesuai ukuran diameter batang.  Disebar 4 titik tusukan injeksi.


Semua langkah-langkah ini diikuti sistem kultur teknis yang sehat mulai penyiapan lahan, bibit, tanam, pemeliharaan (pemupukan, PHPT, irigasi/drainasi) ketentuan menjaga penularan lebih luas baik iradikasi, isolasi dan sterilisasi peralatan kerja, anggota badan petani, dan tanaman yang sudah terdeteksi gejala serangan penyakit Fusarium Oxysporoum dan Pseudomonassolanacearum.

“Penerapan pemupukan dikayakan dengan agency hayati, dengan asumsi makin beragam makin kokoh struktur kontruksi lahan,” tegasnya.[rilis]


Posting Komentar

0 Komentar