Spesifik Lahan Rawa, Tanah Laut Uji Coba Traktor Apung

PELAIHARI - Ujicoba hydrotiller atau traktor apung spesifik Lahan rawa digelar di Desa Durian Bungkuk, Kecamatan Batu Ampar,  Kabupatn Tanah Laut, Jumat (2/4/2021).

Permasalahan produksi pertanian sektor pangan masih banyak menghadapi kendala lahan. Lahan rawa dengan spesifikasi yang selalu tergenang membutuhkan perhatian tersendiri dalam pengelolaannya. 

Sementara, proses pengolahan tanah lahan rawa yang sering dihadapkan pada ketidaksesuaian alat mesin pertanian, menyebabkan lambatkan persiapan tanam.
Hal ini menjadi pemikiran sendiri untuk dicarikan solusi teknologi dalam rangka mempercepat pengolahan tanah dan penanaman.

Untuk itu, rekayasa teknologi berupa traktor apung dihasilkan melalui serangkaian pendampingan terhadap peserta pelatihan yang berlangsung di Desa Durian.

Pelatihan dan ujicoba hasil ini merupakan program Dinas Perindustrian Provinsi Kalsel kerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Tanah Laut, dimaksudkan untuk melihat kinerja alat dalam proses pengolahan tanah di lahan rawa.

Traktor apung dibuat oleh bengkel Jaya Lestari Tehnik milih Saifudin, sebagai pusat layanan teknik yang berlokasi di Desa Durian Bungkuk Kecamatan Batu Ampar, dengan pendampingan dari  Dinas Perindustrian.

Ujicoba disaksikan oleh jajaran Dinas Perindustrian dan Dinas Pertanian Hortikultura dan Perkebunan Kabupatan Tanah Laut, serta para penyuluh Pertanian dan masyarakat setempat. Hadir dalam ujicoba Bupati Tanah Laut, H Sukamta.

Hydrotiller atau traktor apung adalah alat mesin pertanian spesifik untuk pengolahan tanah lahan rawa. Traktor ini dirancang tanpa roda besi, tapi dilengkapi dengan semacam pelampung dari bahan plat sehingga tidak amblas atau tenggelam.

Diperkirakan kapasitas kerjanya dalam sehari mencapai seperempat hektare untuk lahan baru atau yang banyak rumputnya. Dipastikan kapasitasnya lebih tinggi jika digunakan pada lahan yang sudah biasa diusahakan. 

Dalam wawancara usai ujicoba, Bupati Sukamta menilai bahwa teknologi ini sangat cocok dengan kondisi lahan di Tanah laut yang pada umumnya lapisan tanah subur sangat tipis.  

Olah tanah dengan menggunakan traktor apung yang diujicobakan ini menghasilkan olahan tanah yang tidak terlalu dalam. Dengan demikian, sangat cocok dengan kondisi jenis lahan yang tingkat kemasamannya tinggi dan lapisannya tipis. 

Tanah tidak memerlukan pengolahan dalam yang dapat menyebabkan lapisan pirit terekspos naik yang berpengaruh buruk bagi tanaman.

“Menurut pengamatan saya, saya kira teknologi ini tepat untuk dikembangkan,” ujar Sukamta.

Menurutnya, pengembangan teknologi hydrotiller sangat dibutuhan karena untuk mempercepat pengolahan tanah dan meningkatkan efisiensi melalui pengeluaran biaya yang lebih kecil.[rilis]