Buah Manis dari Menekuni Komoditas Hortikultura

KEDATANGAN Seno Haji mengikuti transmigrasi di Desa Siong kabupaten Barito Timur, Kalimantan Selatan menjadi babak baru dalam kehidupannya. Hidup bersama sang istri dan sang anak yang sudah masuk sekolah madrasah tsanawiyah semakin memacunya untuk menjadi sukses.

“Bisa balik modal saja sudah alhamdulillah,” kenang bapak Seno.

Seno lantas mencoba peruntungan baru dengan memutuskan untuk menekuni pekerjaan sebelumnya, menjadi seorang petani semangka. Lahannya ada di belakang rumahnya sendiri . 

Letaknya tak jauh dari tempat tinggalnya. Tetap sama, dia menanam semangka dan cabe varietas brenggolo dan Maruti.
Hasil panennya, lumayan. Dia bisa menabung. Sedikit demi sedikit. 

“Saya pindah, kemudian jadi petani lagi. Lahannya dekat sini saja. Untuk bibitnya beli sendiri,” ujarnya.

Keputusannya tak selalu berjalan mulus. Dia pernah merugi. Dia gagal panen. 

“Bukan gagal total. Tapi saya rugi, banyak semangka yang busuk,” jelasnya. 

Meski demikian, Seno tidak patah aral. “Rugi itu saya anggap biasa dalam usaha. Malah, kerugian ini semakin memacu saya untuk lebih giat bertani,” imbuhnya.

Kesabaran dan keuletannya membuahkan hasil. Panennya berhasil. Tidak ada “resep” khusus. Sistem bercocok tanamnya sama seperti petani lainnya.  

“Enggak ada yang istimewa. Sama saja dengan petani lain. Saya dapat ilmu bertani juga dari teman, berbagi ilmu sama teman dan penyuluh pertanian dari Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Paju Epat Kabupaten Barito Timur Kalteng,” terangnya.

Dia mengatakan, hal pertama yang dilakukan adalah menggemburkan tanah. “Kalau pakai cultivator cepat, sehari bisa selesai. Tapi kalau cara manual, ya bisa satu hingga dua bulan,” bebernya. 

Tidak hanya membutuhkan waktu yang lama, cara manual juga membutuhkan biaya lebih.

Beberapa waktu lalu, dia pun berhasil memanen semangka seberat dua ton. Hasil panennya itu berasal dari empat bungkus bibit semangka, yang mana per bungkus berisi 300 biji. Bibit ditanam di lahan yang tanahnya sudah digemburkan, dicampur pupuk kandang.

“Masa panen itu 65 sampai 70 hari sejak masa tanam. Kalau tanam sama perkawinan butuh satu bulan. Saya juga nggak menyangka bisa berbuah semua,” katanya.

Keuntungan yang didapat pun cukup menggiurkan. Bermodalkan Rp3 juta, dia dapat meraup keuntungan sekira Rp6 hingga 9 juta. 

“Ya, hitung saja, setiap ton itu dibeli Rp 3 juta. Alhamdulillah,” ujarnya.

Ketika ditanya hambatannya dalam bertani, dia mengatakan, belum adanya alat mesin pertanian. 

"Kalau penyakit di sini enggak terlalu rawan. Masih steril lingkungannya. Kalau semangka lebih baik musim kemarau dibandingkan musim penghujan . Kalau hujan banyak jamur, Patek, busuk buah  dan ulat,” terangnya.

Hasil panennya lantas diantarkan ke pasar Tamiang Layang , pasar Tanjung , kemudian dipasarkan di Barito Timur dan Tabalong.

Semoga sepenggal kisah Seno mampu menjadi motivasi dan inspirasi bagi kelompok tani yang lainnya di Kecamatan Paju Epat untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan masyarakat.[rilis]


Posting Komentar

0 Komentar