Mantap, Purnawidya BBPP Binuang di Anjir Terapkan Materi Pelatihan

PELATIHAN teknis bagi petani yang telah dilaksanakan oleh BBPP Binuang di BPP Anjir Pasar, Barito Kuala dua pekan lalu, telah membuahkan hasil. 

Adalah Arbaini, Pengurus Kelompok Tani Padat Karya, Desa Sungai Punggu Baru, Kecamatan Anjir Muara mempraktikkan pembuatan pestisida nabati. 

Ia mempraktikkan pembuatan pestisida nabati berbekal keterampilan yang didapatnya dari pelatihan teknis yang digelar BBPP Binuang di BPP Anjir Pasar pada 16 hingga 18 Juni 2021. 

Saat dihubungi melalui sambungan telepon Arbaini mengatakan, bahan yang digunakan untuk membuat pestisida nabati antara lain bawang putih, daun mimba, daun kamboja, sambiloto, serai wangi, daun sirsak, gula pasir, laos dan starter. Pembuatan dilakukan di rumah sendiri dengan bantuan istrinya.
 
“Kecuali starternya, kami mendapatkan bahan-bahan ini dari tanaman yang kami tanam di halaman rumah saja. Sehingga ketersediaan bahan utama tidak menjadi masalah," jelasnya.

Pembuatan pestisida nabati dilaksanakan tanggal 23 hingga 24 Juni, atau 5 hari setelah pelatihan usai. Pemeraman dilakukan semalam untuk mendapatkan sari dari bahan yang telah dihaluskan. 

Dari hasil pembuatan ini, Arbaini mendapatkan 20 liter pestisida nabati. 

“Kami simpan pada jerigan ukuran satu literan sebanyak 8 jerigen dan botol AMDK 600mL sebanyak 20 botol agar mudah untuk mengambil saat akan digunakan," paparnya.

Untuk percobaan awal, Arbaini mengaku sudah menyemprotkan ke tanaman jeruk yang ada di halaman depan rumahnya, dan hasilnya cukup memuaskan.

“Hari Sabtu (26/6/2021), kami ujicobakan dengan menyemprotkannya ke tanaman jeruk yang kebetulan daunnya terkena kutu kebul dan keriting. Pada hari Selasa (29/6/2021) daun sudah agak bagus dan kutu kebul mulai mengering," ungkapnya dengan penuh semangat.

“Kebetulan tidak ada hujan dalam seminggu ini, cuaca agak mendung dan berangin saja,” imbuhnya.

Peserta lain yang sudah mempraktikkan materi pelatihan adalah Haryadi, petani milenial di desa Anjir Seberang Pasar Kecamatan Anjir Pasar. 

Haryadi mengolah tanah sekunder pada Senin (28/6/2021) dan dilanjutkan dengan penanaman padi unggul Selasa (29/6/2021).

Saat dihubungi melalui sambungan telepon, Haryadi mengatakan, total lahan dengan pertanaman padi unggul seluas 3 hektare. 

“Saat ini kami menanam padi unggul 0,5 hektare, sehingga total lahan dengan tanaman padi unggul seluas 3 hektare, karena sebelumnya kami sudah menanam 2,5 hektare," bebernya.

Bibit padi yang ditanam dengan usia muda dan menggunakan sistem jarwo.

“Untuk memulai sistem jarwo dan penggunaan bibit padi muda, kami melatih tenaga tanam agar terbiasa. Bibit padi muda kan rentan patah. Sedangkan untuk sistem jarwo, tenaga tanam masih menyesuaikan untuk penanamannya," terangnya.

Budaya menanam padi unggul saat ini menjadi program yang dilaksanakan di Barito Kuala, khususnya Anjir. Teknologi yang berkaitan dengan budidaya padi unggul perlu dilaksanakan sehingga hasil padi unggul benar-benar optimal. 

Beberapa teknologi yang mendukung budidaya padi unggul adalah penggunaan bibit usia muda, jumlah bibit 2 sampai 3 bibit, dan penanaman sistem jajar legowo. 

Pelatihan yang dilakukan BBPP Binuang, khususnya di Anjir pada 3 pekan lalu memberikan paradigma baru bagi petani dan memberikan dampak terhadap peningkatan kompetensi petani. 

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi saat melakukan kunjungan ke Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Al-Muklis, Kabupaten Bandung, Jawa Barat 8 Maret 2021 lalu menyampaikan, pertanian harus sampai hilir, jangan hanya sampai produksinya saja. 

"Artinya pertanian itu harus diolah, digiling menjadi beras, dikemas, sampai dijadikan nasi untuk dijual. Jadilah petani dan pedagang "Petandang", sehingga ada nilai tambah dan keuntungan yang lebih besar," ungkapnya.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo dalam kesempatan terpisah menyampaikan, sesuai dengan arahan Presiden RI, kita harus menjamin ketersediaan pangan seluruh rakyat Indonesia. Ini berarti kebutuhan makanan 270 juta rakyat Indonesia wajib kita kawal, tidak boleh terganggu sama sekali.

“Pengawalan kita tidak hanya saat on farm, tapi membantu setelahnya. Bagaimana kita memperbaiki pasca panen sehingga losses (kehilangan hasil produksi) lebih sedikit. Kita juga harus masuk ke hilirisasi sehingga produk yang dihasilkan bisa memiliki nilai tambah dan bisa dijual dengan harga yang baik,” tutur Syahrul.[rilis]


Posting Komentar

0 Komentar