Kisah Batu Kemudi di Tanbu, Bak Legenda Malin Kundang

BATULICIN - Bak cerita Malin Kundang, kisah nasib anak yang durhaka kepada orangtuanya ternyata juga ada di Kabupaten Tanah Bumbu, tepatnya di Desa Sela Selilau, Kecamatan Karang Bintang.

Kisah ini seakan menjadi legenda rakyat bagi warga Kampung Batu Kemudi, Desa Sela Selilau. Bahkan sejarah adanya nama Kampung Batu Kemudi ini terkait erat tentang anak durhaka tersebut.

Kepala Desa Sela Selilau, Mastur kepada wartawan grapena.com saat ditemui di lokasi wisata Batu Basuhud, Minggu (7/8/2022) mengungkapkan, awalnya Desa Sela Selilau ini memang memiliki cerita sejarah.

"Sejarah kerajaan dahulunya, cerita para tetuha kita orang dahulu. Kenapa sih Kampung Batu Kemudi, Desa Sela Selilau. Batu Kemudi itukan orang kepulauan, kualat dengan orangtua," tuturnya.

Ceritanya, lanjut Mastur, ada seorang anak merantau dan menikah dengan putri Raja. Setelah menikah, anak itu kembali pulang ke Desa Sela Selilau. 

Ketika itu, orangtuanya hanya tinggal di sebuah gubuk beratapkan daun-daun. Orangtua itu menunggu anaknya sekian tahun karena sang anak belum pulang kampung.

"Saking rindunya, orangtua itu selalu meneteskan air mata di bantal tempat Ia tidur hingga akhirnya ditumbuhi pohon kapuk yang besar," bebernya.

Singkat cerita, sambungnya, si anak yang dirindukan kembali pulang ke Batu Kemudi. Ironisnya, sang anak malah tidak mengakui orangtua yang melahirkan dan membesarkan dirinya.

"Jadi itulah sejarahnya dinamakan Batu Kemudi, anak itu kembali berlayar dan ditolak perahunya untuk berlayar lagi, karena sejarahnya kampung Batu Kemudi ini dulu laut. Anak itu, perahu larut dan kemudinya patah, lalu dinamakan kampung Batu Kemudi," paparnya.

Ia meyakinkan jika masih ada sejarahnya di sungai Sela Selilau, Mantewe. 

"Kapalnya terbalik, orangnya jadi batu satu keluarga dengan bentuk manusia dan rambut terurai serta jari tangan," pungkasnya.[joni]