Kopasos Atu-Atu Olah Sampah Organik Jadi Pakan Ternak dan Ikan

Kopasos Atu-Atu Olah Sampah Organik Jadi Pakan Ternak dan Ikan

PELAIHARI - Sampah organik di Kabupaten Tanah Laut (Tala) mulai dimanfaatkan menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi. Hal itu dilakukan Komunitas Pengelola Sampah Organik Sinergi (Kopasos) di Desa Atu-Atu melalui budidaya Black Soldier Fly (BSF) atau lalat tentara hitam yang menghasilkan maggot.

Saat meninjau lokasi Kopasos, Bupati Tala H. Rahmat Trianto melihat pengelolaan sampah yang dilakukan komunitas tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan lebih luas. Menurutnya, pengelolaan sampah yang dipadukan dengan kegiatan budidaya tidak hanya membantu mengurangi sampah organik, tetapi juga dapat membuka peluang usaha bagi masyarakat.

Bupati Tala juga melihat sejumlah lahan milik pemerintah daerah yang belum dimanfaatkan secara optimal dapat menjadi alternatif lokasi untuk mengembangkan kegiatan serupa. Melalui konsep ekonomi sirkular, sampah organik dapat diolah kembali menjadi sumber daya yang mendukung kegiatan produktif.

Founder Kopasos, Heri Winardi, mengatakan komunitas tersebut mulai dirintis pada 2021. Awalnya, sejumlah warga mencari cara untuk mengatasi persoalan sampah organik di lingkungan sekitar. Sampah tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai media budidaya BSF hingga menghasilkan maggot.

Maggot yang berusia sekitar 15 hingga 20 hari, kata Heri, dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan ikan. Pemanfaatannya kemudian dikembangkan dengan menghubungkan budidaya maggot dengan peternakan ayam serta budidaya ikan lele dan nila.

"Komposisi paling besar dalam satu budidaya adalah biaya pakan. Kalau biaya pakan bisa dikurangi melalui budidaya maggot dari sampah organik, tentunya hasil usaha bisa lebih banyak dan keuntungannya meningkat," jelasnya, Rabu (16/9/2026).

Kopasos tidak menjadikan maggot sebagai produk utama untuk dijual. Hasil budidaya tersebut lebih banyak digunakan sebagai pakan dalam rangkaian usaha yang mereka kelola.

Dari sistem tersebut, nilai ekonomi kemudian diperoleh melalui hasil ternak dan budidaya seperti ayam, telur, ikan lele, dan ikan nila yang dipasarkan kepada masyarakat. Dengan demikian, sampah organik yang masuk tidak berhenti sebagai limbah, tetapi kembali dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan usaha.

Dalam pengembangannya, Kopasos mendapat dukungan Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPKPLH) berupa fasilitas pengangkutan dan penampungan sampah.
 Sementara kawasan budidaya dibangun secara swadaya oleh komunitas dengan memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman dari berbagai pihak di bidang pengelolaan lingkungan.

Pengembangan Kopasos menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat memberikan manfaat lebih dari sekadar menjaga kebersihan lingkungan.

Melalui pengolahan yang tepat, sampah organik dapat menjadi bagian dari kegiatan produktif sekaligus mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat di Tala.[lastri]
Lebih baru Lebih lama