Jaga Ketahanan Pangan, Penyuluh Genjot Petani Manfaatkan Pekarangan

TANJUNG SELOR - Pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak pada masalah kesehatan, tetapi berdampak sosial dan ekonomi yang besar. 

Pelambatan pertumbuhan ekonomi menurut skenario paling berat yang diperkirakan pemerintah akan menyebabkan paling tidak 5,23 juta orang menjadi pengangguran akibat PHK. 

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, salah satu langkah strategis yang dilakukan jajarannya adalah mengoptimalkan pekarangan pangan untuk menjaga ketahanan pangan.

Mentan SYL menekankan agar memanfaatkan setiap jengkal tanah kosong untuk ditanami berbagai komoditas pangan, seperti umbi-umbian, sayuran, dan buah-buahan. Pekarangan harus dioptimalkan sebagai lumbung pangan hidup untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga.

"Ini momentum kita memproduksi pangan dari pekarangan sendiri, artinya akan membentuk kemandirian pangan bagi tiap-tiap rumah tangga, sehingga kebutuhan pangan dapat terpenuhi dari pekarangan," kata SYL.

Komoditas pangan yang ditanam di pekarangan juga relatif lebih singkat masa tanamnya untuk kemudian dipanen. Proses penanaman dan pemanenan juga lebih mudah. Hal ini merupakan keunggulan bertanam dari pekarangan sendiri.

Kementan telah mengembangkan Pekarangan Pangan Lestari (P2L) tersebar di seluruh Indonesia. Tahun 2020 ini P2L berada di 3.876 lokasi di seluruh Indonesia.

Salah satu kelompok tani yang merasakan manfaat dari pekarangan untuk memenuhi kebutuhan pangan adalah Kelompok Wanita Tani (KWT) Subur Lestari berlokasi di Desa Salim Batu Kecamatan Tanjung Palas Tengah Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara

Ketua KWT Subur Lestari, Raihana mengaku sangat merasakan manfaat dari kegiatan ini, terutama di masa pandemi Covid-19. Dengan tetap mematuhi SOP Covid-19, mereka tetap giat beraktivitas untuk bertanam aneka tanaman hortikultura dan rimpang di pekarangan masing-masing karena sudah merasakan manfaatnya untuk menghemat pengeluaran kebutuhan pangan setiap hari.

Dirinya bersama dengan 30 orang anggota KWT yang seluruhnya ibu-ibu dengan tekun mengelola lahan demplot, mulai dari melakukan pembibitan, penanaman, pemeliharaan, hingga panen pascapanen dan pemasaran, didampingi oleh Penyuluh Pertanian Lapangan, Ardi Wiranata.

“Penyuluh Pertanian Lapangan kerap datang untuk melakukan penyuluhan terkait pemanfaatan pekarangan dan pembinaan kelompok," ungkap Raihana, Rabu (3/6/2020).

“Kami menanam aneka sayur dan umbi umbian diantaranya ubi, singkong, talas, kunyit, Terong, sawi, cabai rawit, bayam, pitcai dll yang pengelolaannya mudah dan cepat panen sehingga bisa langsung dimanfaatkan," tambah Raihana.

Ardi Wiranata menyebutkan, meskipun anggota KWT tetap berada di rumah, namun tetap bisa produktif dan justru dapat membantu perekonomian di sekitarnya. 

Pemanfaatan lahan pekarangan secara optimal akan meringankan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Apalagi di tengah wabah Covid-19 seperti sekarang.

"Menanam umbi-umbian di pekarangan bisa menambah kebutuhan pangan keluarga, dan hasil panen yang dipetik selain mencukupi kebutuhan anggota keluarga, juga diberikan kepada keluarga yang bukan anggota kelompok. Ada juga yang dijual, bisa menambah pendapatan keluarga," ujar Ardi

Koordinator BPP Tanjung Palas Tengah, Mujiono mengatakan, kegiatan P2L dilaksanakan dalam rangka mendukung program pemerintah untuk penanganan daerah prioritas intervensi stunting dan atau penanganan prioritas daerah rentan rawan pangan atau pemantapan daerah tahan pangan.

“Kegiatan ini dilakukan melalui pemanfaatan lahan pekarangan, lahan tidur dan lahan kosong yang tidak produktif, sebagai penghasil pangan dalam memenuhi pangan dan gizi rumah tangga, serta berorientasi pasar untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga,” terang Mujiono.

Senada dengan arahan Mentan SYL, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Prof Dedi Nursyamsi mengatakan, dalam kondisi seperti sekarang ini, pemanfaatan lahan pekarangan benar-benar dirasakan manfaatnya.

Menurutnya, ketahanan pangan bukan saja tentang kecukupan bahan pangan, namun juga menyangkut kemampuan memproduksi sendiri bahan pangan dengan memanfaatkan sumber daya lokal.

“Kalau ini (pekarangan pangan) kita optimalkan, ketahanan pangan di Indonesia akan berkelanjutan. Kegiatan ini memicu masyarakat mandiri dan berpendapatan sehingga secara lestari bisa menanam kembali serta bisa menjadi sumber pendapatan ekonomi mereka, itu yang penting,” pungkas Dedi.[advertorial]

Posting Komentar

0 Komentar