Support UPPO, Penyuluh Pertanian Gelar Bimtek Biourine

PELAIHARI - Untuk meningkatkan kemampuan petani dalam pembuatan biourine, Penyuluh Pertanian menggelar demontrasi pembuatan biourine.

Kegiatan ini digelar pada 3 Juni dan 13 Juni 2020 di Poktan Wisma Nugraha Desa Durian Bungkuk, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Tanah Laut. 

Demontrasi cara diperagakan oleh seorang pengurus Poktan dengan didampingi Penyuluh dan diikuti oleh 12 petani.
  
Biourine adalah sejenis pupuk organik cair yang terbuat dari fermentasi campuran urine ternak dan bahan-bahan organik. Adapun manfatnya adalah untuk menambah unsur hara tanah baik makro maupun mikro karena kandungan unsur hara yang terbilang lengkap. 

Biourine juga dapat menjadi zat perangsang tumbuh bagi tanaman. Biourine diperoleh melalui proses pembuatan yang membutuhkan teknik yang sederhana, Namun untuk membekali petani dilaksanakan bimbingan teknis dengan metode demonstrasi cara.

Kegiatan ini digagas oleh BPTP Balitbangtan Kalsel bekerja sama dengan ULM dan berkoordinasi dengan Dinas Peternakan Tanah Laut, BPP Batu Ampar.

Ini juga terkait dengan program peningkatan produktivitas ternak sapi melalui sistem Integrasi Tanaman dan Ternak. 

Dalam kaitannya dengan program peningkatan produktivitas sapi, Ditjen PSP hadir dengan program UPPO sebagai upaya untuk memaksimalkan pemanfaatan limbah ternak menuju Zero waste.

Kehadiran Penyuluh Pertanian selalu diharapkan untuk berperan nyata dalam setiap aktivitas pertanian. Tidak terkecuali dalam kegiatan pembangunan UPPO. 

UPPO yang merupakan program bantuan pemerintah melalui Ditjen PSP Kementan, perlu didukung dengan kesiapan sumberdaya manusia petani. Tanpa disertai edukasi untuk mendorong petani, pelaku rasanya sulit untuk mencapai keberhasilan yang berkesinambungan.

Seperti yang disampaikan Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi dalam sambutan seminar Vicon (22/4/2020) lalu yang menyampaikan bahwa keberhasilan suatu program tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri, tapi melalui kerjasama yang baik.

Hal ini semakin menegaskan bahwa program apapun membutuhkan kerja sama dengan orang lain. Demikian pula, program Kostratani mendorong peran Penyuluhan dalam setiap program teknis yang dicanangkan oleh kementerian pertanian.

Selaku demontrator adalah Kusnan, pengurus Poktan, dengan didampingi Penyuluh. Demonstrasi dilakukan di hadapan 12 orang petani. 

Pada tahap pertama, dilakukan demontrasi secara sistematis mulai dari penyiapan peralatan yang terdiri dari 2 drum kapasitas @300 liter, meramu bahan dasar dan tambahan tambahan, memasukkan ramuan dalam drum untuk proses fermentasi selama 10 hari. Selama fermentasi itu, setiap hari dilakukan buka tutup drum. 

Pada tahap kedua, 10 hari setelah demonstrasi pertama dilakukan demontrasi lanjutan dengan kegiatan menyedot, menaikkan dan mengalirkan urine dari drum 2 ke drum 1 yang membutuhkan waktu 10 jam. 

Kegiatan ini bertujuan untuk menghilangkan amoniak. Selanjutnya biourine bisa dikemas dan dapat digunakan.

Kegiatan itu mendapatkan respon positif dari petani. Petani antusias mengikuti demonstrasi dari awal hingga akhir. 

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan demonstrasi cara pembuatan biourine, salah satu petani peserta  mengaku akan membuat pupuk urine dan pupuk padat lainnya dengan limbah sapi yang ada di kelompoknya.

Ketua Kelompok Tani Wisma, Nugraha mengatakan, secara berkelompok pihaknya akan membuat pupuk Biourine dan pupuk padat lainnya yang bahan dasarnya limbah ternak sapi yang berlimpah di Kandang kelompok dan juga di kandang-kandang pribadi petani. 

"Demikian bahan tambahan empon-empon yang diperlukan mudah didapatkan," imbuh Sulaiman.

Ditanya tentang kegiatan yang dilaksanakan, Suradi selaku pendamping kegiatan di lapangan mengungkapkan, kegiatan ini dipastikan bermanfaat. 

Dengan petani membuat biourine, lanjutnya, penggunaan pupuk kimia dan pestisida buatan untuk tanaman dapat diminimalisir, keluaran biaya dapat dihemat, lebih ramah lingkungan dan lebih sustainabel. 

Terlebih-lebih biourine juga berfungsi sebagai zat perangsang tumbuh tanaman. Bourine ini sangat baik untuk tanaman karena unsur harau yang tinggi dan dapat berfungsi sebagai zat perangsang tumbuh. 

"Jadi, artinya ada keterpaduan antara peternakan dan tanaman yang saling mendukung. Ternak menyediakan bahan organik bagi tanaman, hasil limbah tanaman dimanfaatkan untuk pakan ternak," tutur Suradi.

Namun demikian, masih ada permasalahan instalasi yang kurang praktis dan kurang efisien sehingga urine yang bisa digunakan tidak maksimal.

Masih perlu alat penampung urine yang lebih praktis dan efisien. Hal ini berkaitan langsung dengan konstruksi kandang yang masih perlu di modifikasi supaya bisa menampung urine lebih banyak.

"Karena untuk tanaman padi sawah sebagai contoh harus disemprot setiap 7 sampai 10 hari sekali sejak tanaman padi di tanam, itu perlu banyak biourine," pungkas Suradi.[advertorial]