Bersama BPPSDMP, Komisi IV DPR Jawab Kendala Petani Pisang Kutim

SEBANYAK 42 peserta dari Poktan, Gakpotan dan penyuluh pertanian mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek), baik in wall dan out wall. Ini dilakukan secara seimbang untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan terhindar dari kejenuhan dan kepenatan.

Apalagi jam pembelajaran cukup padat, dari pukul 09.00 hingga 15.30 Wita. Bimtek ini dilakukan untuk menstimulus daya improvisasi, inovasi dan kreativitas peserta dalam menyelesaikan permasalahan dalam budidaya pisang.

Kepala BBPP Binuang, Dr Ir Yulia Asni Kurniawati M.Si mengatakan, suksesnya penyelenggaraan Bimtek ini berkat tim fasilitator BBPP Binuang BPPSDMP dengan dukungan Komisi IV DPR RI.

"Bimtek ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Petani dan Penyuluh Pertanian," terangnya.

Bimtek ini juga untuk membekali inovasi teknologi produksi pupuk organik, pestisida nabati dan hayati di BPP Kostratani Kaliorang Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur.

"Di mana secara nyata mampu membumikan BPP sebagai wahana pembelajaran, pengembangan inovasi spesifik lokalita, terbangun jejaring kemitraan/usaha bersama,” jelas Yulia.

Peserta Bimtek ini menerima materi secara terpadu, baik secara skill teknis pertanian maupun motivasi dan perilaku peserta dalam mengusahakan pisangnya.

“Salah satu program unggulan Kementerian Pertanian adalah meningkatkan 300 persen nilai ekspor di tahun 2024, salah satunya komoditas pisang yang telah menembus pasar China, Malaysia, Korea hingga Asia tengah, Eropa dan Jepang," imbuh Prof Dedy, Kepala BPPSDMP. 

Peserta diberikan bekal teknis budidaya pisang yang sehat dan produktif, membuat pupuk organik cair, pestisida nabati dan penyiapan bibit pisang yang sehat. 

Dengan demikian, mereka mampu mengendalikan intensitas serangan jamur dan bakteri yang telah menurunkan produktivitasnya hingga mengalami kerusakan yang berakibat kematian tanaman pisang. 

Penyakit layu bakteri atau penyakit darah BDB (Blood Disease Bacterium) disebabkan Bakteri Xanthomona celebensis; R. syzygii subsp. indonesiensis dan penyakit layu Fusarium oxysporum f cubense.

Pembekalan skill teknis ini untuk meningkatkan produktivitas dan kompetitif secara optimal, sehingga dihasilkan produk yang kompetitif di pasar domestik dan global yang pada akhirnya mampu memberikan peningkatan kesejahteraan secara optimal dengan alam tetap lestari sehingga proses produksi pisang dapat berkelanjutan sebagaimana syarat-syarat yang ditentukan sebagai produk global.[rilis]