Walikota Magelang: Kita Butuh Big Data Terintegrasi

Walikota Magelang dr Muchammad Nur Aziz, Sp.Pd berbicara dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Operasional Kegiatan, Selasa (13/4/2021). | Foto: Pemkot Magelang.

MAGELANG - Mahadata, atau big data, yang sifatnya terintegrasi, sangat dibutuhkan untuk menangani suatu masalah dengan lebih cepat, efektif dan efisien.

Dengan big data terintegrasi, setiap OPD (Organisasi Perangkat Daerah) akan ikut terintegrasi dengan baik, sehingga pelayanan kepada masyarakat dapat diberikan secara lebih maksimal.

Sayangnya, apa yang disebut sebagai big data terintegrasi itu, sampai saat ini belum juga dimiliki oleh Kota Magelang, Jawa Tengah. 

Hal itulah yang menjadi perhatian Walikota dr Muchammad Nur Aziz, Sp.Pd., dalam Rakor POK (Rapat Koordinasi Pengendalian Operasional Kegiatan), Selasa (13/4/2021).

Rapat berlangsung di Aula Adipura Kencana, kompleks kantor Walikota Magelang.

"Kita harus berbeda, sehingga saya tidak perlu pakai kertas seperti ini. Tinggal buka handphone, semua data tersedia", kata Dokter Aziz, dikutip dari laman resmi Pemerintah Kota Magelang.

Ia menilai, jika keadaan masih seperti sekarang, yakni tidak ada big data terintegrasi, maka kinerja pemerintah kota akan sulit untuk berjalan maksimal.

Ia meminta Diskominsta (Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik) agar bekerja keras mewujudkan hal itu.

Ia kemudian menyontohkan manfaat big data terintegrasi yang diterapkan di bidang kesehatan.

Di luar negeri, kata Dokter Aziz, pelayanan kesehatan berlangsung sedemikian cepat, sigap dan tanpa biaya. Ia berharap hal itu dapat pula terwujud di Kota Magelang, yakni melalui program "Jemput Sakit, Antar Sehat".

"Memang kita punya saluran 119, tapi masih jauh-jauhan. Harusnya di tiap kecamatan bahkan kelurahan, ada orang yang siap dikontak 24 jam, dan langsung datang. Ini yang saya harapkan. Ayo bareng-bareng kerjakan ini", tandasnya.

Dokter Aziz belum genap dua bulan menjadi Walikota Magelang. Masa jabatannya pun tidak panjang, hanya 3,5 tahun. 

"Tapi saya optimis bisa mewujudkan itu. Yang terpenting adalah mengubah pola pikir, dan keluar dari zona nyaman. Saya yakin bapak dan ibu semua yang di sini berada di zona nyaman. Ayo jangan terlena", ajak Dokter Aziz, kepada peserta rapat.

Rakor POK hari itu turut menghadirkan Wakil Rektor Universitas Diponegoro Semarang, Prof. Budi Setiyono, Ph.D sebagai narasumber.

Dalam paparannya, Prof. Budi mengingatkan, tiap tahun akan selalu muncul angka pengangguran di setiap daerah, termasuk di Kota Magelang. 

"Tapi apakah ini hanya data pasif yang hanya dimiliki Dinas Tenaga Kerja saja, atau terkait dengan instansi lain?" ungkapnya.

Jika data tersebut terintegrasi, maka ia dapat menjadi referensi bagi dinas lain. Misalnya, dinas yang menangani investasi, bisa menggunakan data itu untuk mencari investor.

Dengan kehadiran investor, maka akan ada tenaga kerja yang terserap, sehingga jumlah pengangguran berkurang.

"Data mengenai pengangguran dapat juga dipakai oleh dinas yang menangani UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah)", jelasnya.

Berbekal data itu, selanjutnya walikota bisa memerintahkan dinas yang menangani UMKM untuk mencetak wirausaha baru, atau mengadakan pelatihan, atau juga pemberian modal. 

"Sehingga yang menganggur bisa segera mendapatkan pekerjaan. Dua dinas itu bergerak, maka pengangguran akan bisa diatasi", kata Prof. Budi lagi.

Kalau langkah-langkah tadi sudah dilakukan, dan ternyata masih ada pengangguran yang tidak terserap, misalnya akibat masalah sosial, maka dinas sosial bergerak untuk menyapu bersih masalah ini.

"Itu semua berkat big data yang terintegrasi", kata Prof. Budi.[sahrudin]