Ubinan Padi, Petani Desa Sei Lancang Panen Padi 5 Ton per Hektare

PANEN padi warga di Desa Sei Lancang, Kecamatan Nunukan Selatan pada musim tanam pertama tahun ini diperkirakan meningkat. 

Perkiraan tersebut bukannya tanpa alasan, tetapi didasarkan pada hasil ubinan padi varietas Impari 42 di lahan Kelompok Tani (Poktan) Semangat Baru Nunukan Selatan.

Pengubinan sendiri dilakukan di lahan seluas 2 hektare dari total keseluruhan luas lahan.

Pengubinan merupakan istilah yang biasa digunakan oleh petugas pertanian maupun statistik untuk menghitung secara cepat dan sederhana hasil panen produk pertanian tidak hanya padi sawah.

Namun teknik ini paling umum digunakan untuk memperkirakan potensi hasil gabah dalam luasan 1 hamparan (1 hektare). Pada ilmu statistika, ubinan merupakan sampel/contoh. 

Untuk melakukan pengubinan ini ada tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh siapa saja yang ingin menghitung potensi hasil tanamannya. Prosesnya sangat sederhana, petani pun bisa melakukannya. 

Proses yang pertama kali harus dilakukan adalah hari yang tepat untuk pengubinan dan diupayakan tanaman padi yang akan diubin sudah benar-benar siap untuk dipanen (secara fisiologis dan umurnya sudah tepat).

Pengubinan dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut. Langkah pertama; Menentukan petak sawah yang akan dilakukan pengubinan. Hal ini dilakukan sebagai langkah dasar. 

Selanjutnya; Mengambil minimal 3 titik berbentuk ubin berukuran 2,5 meter x 2,5 meter per hektare sawah. Kemudian; Memotong padi hasil ubinan dan; Memisahkan bulir padi dari batangnya, serta langkah terakhir; Menampi untuk memisahkan gabah hampa serta Menimbang padi hasil ubinan (termasuk gabah hampa).

Setelah itu, timbang padi hasil pemisahan tadi. Hasil timbangan tersebut dikalikan 16 lalu dikalikan 80%.

Adapun manfaat Pengubinan, yaitu para petani bisa mengetahui perkiraan potensi hasil dari tanaman padi petani. Hal ini bermanfaat agar petani tidak diperdaya oleh system jual ijon (borong) yang hanya memperkirakan harga perluasan lahan yang ada. 

Kegiatan ini juga bisa menjadi sarana bagi penyuluh pertanian dalam membuka wawasan pola pikir petani tentang teknologi pertanian, karena metode pengubinan juga menerapkan metode dan teknik-teknik yang membutuhkan pembelajaran terlebih dahulu.

Pengubinan juga menjadi tolok ukur keberhasilan dalam melakukan usahatani. Peningkatan hasil ubinan menunjukan adanya dampak penerapan teknologi yang telah dilaksanakan. 

Berdasarkan hasil tersebut dapat dilakuan evaluasi bersama untuk perbaikan usahatani yang akan datang. 

Oleh karena itu, dalam setiap kegiatan pengubinan penyuluh tidak hanya melakukannya bersama petugas dari BPS namun juga melibatkan petani sebagai pelaku utama dalam kegiatan pengubinan.

Adapun petugas yang melakukan ubinan tersebut, antara lain Christian, Martinus, Hendarto, Ramli, Javed dan Rahmawati. Dari hasil ubinan tersebut diperoleh sebanyak 4,15 Kg gabah atau setara dengan 6,4 ton/ha.  

Pada kegiatan ubinan tersebut juga dihadiri oleh Kepala DKPP, Masniadi S.Hut M.AP, Kabid PSP DKPP, Rahmawati SP M.AP, Tim Brigadir Alsintan, Kasi TP DKPP Kabupaten Nunukan, Cristian Tandi SP, Penyuluh Kabupaten DKPP Kabupaten Nunukan, Martinus dan K. Hendarto SP, Koordinator BPP Nunukan Selatan, Samsiar SP, Penyuluh Wilayah Binaan, Ramli SP serta Ahmad dari Kelompok Tani Semangat Naru.

Setelah dilakukan pengubinan dilaksanakan pemanenan dengan menggunakan Combine Harvester. Hasil ubinan yang diperoleh, yaitu luas lahan yang mencapai 2 hektare. Kemudian petak ubinan berukuran 2,5 x 2,5 meter dengan Varietas Inpari 42 dan hasil Berat Ubinan 4,15 kilogram atau setara dengan 6,4 ton per hektare.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi dalam kesempatan terpisah menyampaikan, menjaga ketahanan pangan bisa dilakukan jika terus menanam.

"Memanfaatkan semua lahan tersedia. Petani dan penyuluh pun harus terus turun ke lapangan untuk memastikan produksi pertanian terus terjaga,” katanya.[rilis]


Posting Komentar

0 Komentar