Merespons Gangguan OPT Karet, BBPP Binuang Beri Layanan Pelatihan

MERESPONS munculnya permasalahan serangan berbagai penyakit karet yang potensial timbulkan kerugian, Balai Besar Pelatihan Pertanian Binuang  (BBPP) Binuang memberi layanan pelatihan bagi aparatur.

Pelatihan dengan tema "Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dan Panen Pascapanen Karet" digelar bekerjasama dengan Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Tabalong di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kembang Kuning, 21 hingga 23 Juli 2021.

Pelatihan yang diikuti 30 orang Penyuluh Pertanian ini dimaksudkan untuk mendorong penyuluh bergerak secara aktif menghadapi munculnya berbagai OPT yang melanda karet rakyat di Kabupaten Tabalong. 

Pelatihan dibuka langsung oleh Plt Kepala Distan Tabalong, H Samani SP MP didampingi oleh Kabid Penyuluhan, Kurdiansyah SP dan Ir Marhaenis Budi Santoso M.Si dari BBPP Binuang.

Samani mengungkapkan, kondisi karet rakyat saat ini sangat memprihatinkan. Dilaporkan ada sekitar 21,3 ribu hektare dari 66,8 ribu hektare yang terserang jamur akar putih dan tersebar di 12 kecamatan dengan kerugian ditaksir mencapai Rp45,6 miliar.

Kerusakan bidang sadapan diakibatkan oleh moldyroot dan kering alur sadap (Brown Bast) mencapai masing-masing 872 hektare dan 2490 hektare dengan kerugian ditaksir masing-masing lebih dari Rp600 juta dan Rp3,5 miliar.

Akhir-akhir ini muncul masalah baru, yaitu serangan penyakit gugur daun yang diduga disebabkan oleh Oiidium dan Pestalotiopsis dengan intensitas tinggi. Namun, masih belum diketahui luas serangan dan kerugian yang ditimbulkan.

Samani menambahkan, melalui pelatihan ini mengajak seluruh Penyuluh Pertanian Petugas bersama-sama POPT untuk terus memonitor kondisi itu dan menyusun konsep tindakan pengendalian. 

“Jadikan momen pelatihan ini sebagai awal gerakan pengendalian. Tentukan strategi pengendalian, tentukan target serangan dan kerugian yang diakibatkan,” tegas Samani.

Ditambahkannya bahwa dalam waktu dekat ini Distan akan membuka pasar lelang komoditas karet. Ini sebagai upaya untuk membantu petani dai aspek perbaikan bokar dan harga yang diterima petani. Karenanya penyuluh diminta untuk mengajak dan mendorong petani.

“Ajak petani untuk ikut program itu,” ujar Samani.

Dalam kesempatan yang sama, Marhaenis Budi Santoso mewakili BBPP Binuang menjelaskan, pelatihan tidak akan bisa menyelesaikan masalah secara langsung. Peserta perlu memiliki komitmen untuk menindaklanjuti dengan aksi nyata di lapangan. 

“Ajak petani secara partisipatif menyusun rencana kerja pengendalian OPT, sebagai rencana aksi selepas pelatihan nanti,” pesan Marhaenis.

Oleh karena itu, seyogyanya penyuluh membantu petani untuk mencari jalan keluar dengan mengidentifikasi masalah di lapangan dan membawa masalah itu dalam rapat koordinasi gerakan pengendalian OPT.[rilis]


Posting Komentar

0 Komentar