Panen Padi, Petani Kahayan Kuala Ingin Bantuan Thresher

MULAI pekan ini, petani Kahayan Kuala sibuk mempersiapkan panen padi, di tengah kondisi cuaca yang kurang mendukung karena masih terjadi hujan dengan intensitas rendah dan sedang. 

Petani Kahayan Kuala tetap optimis bahwa panen padi kali ini lebih baik dari musim tanam sebelumnya. Terlebih mereka mendapatkan program food estate sekaligus pengawalan dan pendampingan dari tim detasering.
 
Dari program food estate pula, petani kahayan kuala mendapatkan bantuan berupa traktor roda 2 lebih dari 75 unit, dan jika ditambahkan dengan beberapa skema bantuan lainnya traktor tangan di Kahayan Kuala hampir mencapai 90 unit. 

Program food estate mengenalkan budaya baru pertanian di Kahayan Kuala yang awalnya mengolah tanah dengan alat tradisional yaitu tajak dan cangkul, untuk 3 musim terakhir mereka mengolah tanah dengan traktor tangan. 

Program food estate memberikan dampak positif bagi perkembangan budaya bertani para petani di Kahayan Kuala. Pola pikir petani sudah mengarah pada efisiensi waktu, biaya dan tenaga dalam budidaya sehingga dapat menekan biaya produksi. 

Kali ini, petani Kahayan Kuala yang menyiapkan diri untuk panen padi berandai-andai sekiranya dapat memiliki thresher untuk membantu merontokkan bulir-bulir padi dari malainya. 

Menurut pengakuan mereka, selama ini merontokkan padi dengan cara di-irik mengunakan kedua kaki (bahasa Jawa= diiles).

Waktu yang dibutuhkan untuk merontokkan padi dengan cara tradisional tersebut terlalu lama dan sekarang petani tentu sangat kewalahan di tengah upaya pemerintah untuk mendorong peningkatan produktivitas. Biasanya mereka meng-irik perorang untuk 8-10 karung selama 1 jam. 

Kita tentunya tidak akan mengandalkan proses tradisional itu selamanya mengingat tenaga kerja yang mulai berkurang, jumlah panen yang terus bertambah serta efisiensi waktu dan biaya.
  
Terang saja, panen kali ini petani mulai mengharapkan bantuan berupa thresher untuk merontokkan padi. 

Ketika disinggung alasan tidak dipukul dengan alat pukul (bhs Jawa = digedhik) atau dipukulkan ke benda (bhs. Jawa = digepyok) sebagaimana kultur semimodern petani Jawa, mereka beralasan bahwa padi merupakan bentuk bukti kekuasaan Tuhan, bahan yang dimakan dan masuk ke tubuh, maka harus dimuliakan dan perlu dihindari dari perlakuan yang keras. 

Aman Nurrahman Kahfi, tim detasering Kahayan Kuala menegaskan bahwa local wisdom masyarakat di sini juga diartikan secara ilmiah salah satunya untuk menghindari losses pada proses perontokan padi. 

Jika padi di-irik tentu losses yang dihasilkan dari proses itu jauh lebih sedikit dibanding ketika digedhik atau digepyok. 

Aman Nurrahman Kahfi juga menjelaskan sembari petani menunggu bantuan pemerintah, mereka dapat membuat dengan memodifikasi thresher dari kayu dan paku yang didesain sedemikian rupa sehingga dapat merontokkan padi. 

“Biaya yang dibutuhkan untuk membuat alatnya saja paling banyak Rp700 ribu rupiah jika penggeraknya dengan pedal," pungkasnya. 
 
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menegaskan, pertanian tidak boleh berhenti. 

"Penyediaan pangan bagi seluruh penduduk Indonesia menjadi program utama Kementan. Terlebih dalam masa pandemi Covid-19," tuturnya dalam keterangan di Jakarta.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi mengatakan, virus corona memang meluluh lantakkan aspek kehidupan, termasuk sektor pertanian yang mempunyai tupoksi menyediakan pangan. 

"Mulai dari sistem produksi hingga distribusi terganggu,” ungkapnya.[rilis]


Posting Komentar

0 Komentar