Diversifikasi Pangan, Strategi Jaga Inflasi Menuju Banua Maju

Diversifikasi Pangan, Strategi Jaga Inflasi Menuju Banua Maju

foto ilustrasi

TIDAK ketergantungan pada satu jenis makanan pokok, kini menjadi fokus yang tengah diupayakan pemerintah. Pun dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Upaya ini juga bisa disebut dengan diversifikasi pangan.

Diversifikasi pangan sendiri merupakan upaya untuk menganekaragamkan jenis makanan yang dikonsumsi, baik dari segi jenis maupun sumbernya. Ini dinilai penting, agar tidak hanya bergantung pada satu jenis makanan pokok saja. 

Upaya ini mencakup peningkatan ketersediaan, akses, konsumsi, dan bioefikasi pangan yang kaya nutrisi, di mana hal ini bertujuan untuk memperbaiki gizi masyarakat dan meningkatkan ketahanan pangan. 

Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan bersama Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik (BPS) terus mendorong diversifikasi pangan sebagai strategi utama menjaga kestabilan harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. 

Langkah ini dinilai efektif untuk mengendalikan inflasi sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal di tengah gejolak harga komoditas nasional.

Data BPS Kalimantan Selatan menyebutkan, pertumbuhan ekonomi daerah pada triwulan I 2025 tercatat sebesar 4,81 persen (year-on-year). Ini cukup menunjukkan tren positif di tengah perlambatan ekonomi nasional. 

Sementara itu, inflasi tahunan tetap terkendali, di mana masing-masing sebesar 0,62 persen pada Januari, kemudian 1,57 persen pada April, serta 1,25 persen pada Mei 2025.

Kepala Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia (BI) Kalimantan Selatan era sebelumnya, Wahyu Pratomo, dalam suatu kesempatan beberapa waktu lalu menyebut jika stabilitas pangan menjadi perhatian utama.

“Stabilitas inflasi pangan menjadi perhatian utama. Komoditas seperti cabai rawit masih menjadi penyumbang tekanan inflasi tertinggi, sehingga diperlukan penguatan pasokan dan pengendalian harga dari sisi produksi,” jelas Wahyu. 

Diversifikasi pangan diyakini menjadi kunci untuk menekan volatilitas harga, di mana Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) meluncurkan berbagai program diversifikasi pangan, seperti penanaman cabai lokal, pengembangan umbi-umbian, serta gerakan konsumsi pangan alternatif non-beras.

Gubernur Kalimantan Selatan era sebelumnya, H. Sahbirin Noor juga pernah menginstruksikan seluruh kabupaten/kota untuk mengembangkan tanaman hortikultura lokal, khususnya cabai dan bawang merah. Ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi lonjakan harga di pasar.

“Diversifikasi pangan tidak hanya menekan inflasi, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi petani lokal. Ini selaras dengan visi Banua Maju yang ingin mendorong pertumbuhan ekonomi dari sektor riil,” terang Sahbirin.


Pasar Murah dan Operasi Pasar

KEGIATAN operasi pasar maupun pasar murah yang dilakukan dinas terkait, tampaknya menjadi gerakan yang dilakukan pemerintah daerah sbagai upaya menjaga daya beli masyarakat.

Di sepanjang semester pertama 2025, TPID Provinsi Kalimantan Selatan bersama Bulog dan dinas terkait telah menggelar lebih dari 99 titik operasi pasar murah di berbagai wilayah di Kalimantan Selatan. 

Komoditas yang dijual meliputi beras, minyak goreng, cabai, dan kebutuhan pokok lainnya.

Langkah ini juga diyakini ampuh menjaga daya beli masyarakat, terutama di momen rawan seperti Ramadan dan pasca-Lebaran, ketika permintaan pangan melonjak drastis.

Kepala Dinas Perdagangan Kalimantan Selatan, H. Birhasani di era Gubernur Sahbirin Noor mengatakan, pemerintah provinsi kalimantan selatan selalu komitmen untuk menjaga pasokan pangan agar tetap stabil.

“Kami berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota agar menjaga pasokan tetap stabil, terutama dari petani lokal. Distribusi bahan pangan akan terus diperkuat,” terang Birhasani.


Efek Ekonomi Positif

SEMENTARA itu, Badan Pusat Statistik menyebut sektor pertanian dan pengolahan makanan menjadi penopang utama perekonomian Kalimantan Selatan. Di Kabupaten Kotabaru, misalnya, sektor pertanian menyumbang hampir 19 persen dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), sedangkan industri pengolahan mencapai 33,8 persen.

Sementara di Kota Banjarmasin, industri makanan dan minuman menyumbang sekitar 62 persen dari total industri kecil dan menengah.

Dengan diversifikasi pangan yang berjalan optimal, produktivitas sektor ini diharapkan meningkat, sekaligus memperluas lapangan kerja dan menurunkan angka kemiskinan.


Tantangan Distribusi dan Edukasi

BEBERAPA tantangan masih harus dihadapi, meski program diversifikasi pangan cukup menunjukkan hasil positif. Tantangan yang harus dihadapi itu sebuat saja seperti keterbatasan distribusi antarwilayah dan minimnya edukasi masyarakat mengenai pangan alternatif.

Bank Indonesia mencatat bahwa perubahan pola konsumsi menjadi kunci jangka panjang pengendalian inflasi pangan. Oleh karena itu, kampanye konsumsi pangan lokal berbasis gizi dan budaya terus digalakkan melalui sekolah, media massa, dan komunitas masyarakat.

Ketua TPID Kalimantan Selatan, Nurul Fajar Desira ingin masyarakat mulai membiasakan diri mengonsumsi makanan alternatif selain beras, meski tentu secara perlahan dan butuh proses penyesuaian.

“Kita ingin masyarakat terbiasa mengonsumsi alternatif selain beras, seperti singkong, jagung, maupun umbi lokal yang kaya karbohidrat dan nutrisi,” tutur pria yang akrab disapa Fajar ini.


Menuju Banua Maju

UPAYA diversifikasi pangan ini sejalan dengan tema pembangunan daerah tahun 2025, yakni “Ekonomi Tumbuh, Inflasi Terjaga untuk Banua Maju.” Karena itu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menargetkan tingkat inflasi tetap di bawah 3 persen hingga akhir tahun.

Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, petani, dan masyarakat tentunya sangat penting untuk mewujudkan hal ini. Tak ayal, jika diversifikasi pangan juga bisa disebut sebagai investasi jangka panjang untuk ekonomi daerah yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Dengan strategi terpadu, Kalimantan Selatan tentunya harus optimis dapat menjaga pertumbuhan ekonomi yang stabil serta memastikan inflasi tetap terkendali demi kesejahteraan masyarakat Banua.

Tidak hanya pemerintah yang dengan segala upaya tengah berjuang untuk mewujudkan gerakan aman pangan, masyarakat tentunya juga harus ambil bagian agar diversifikasi pangan ini benar-benar berhasil.[anshari]
Lebih baru Lebih lama