NORHADIYATI Apriyani, atau Rere guru SDN Raranum hanya melihat sisa sisa kerusakan sekolahnya usai diterjang banjir.|foto: istimewa
PARINGIN - Pagi di Raranum tidak lagi dibuka dengan suara bel sekolah. Yang terdengar justru derit kayu basah, batu yang diseret, dan langkah-langkah hati-hati di atas lumpur yang belum sepenuhnya mengering. Di sanalah Norhadiyati Apriyani akrab disapa Rere berdiri. Bukan dengan kapur di tangan, melainkan dengan telapak yang kotor oleh tanah dan sisa banjir.
Gelar Guru Berprestasi tingkat Provinsi melekat di namanya. Namun hari itu, tak ada seremoni. Tak ada panggung. Yang ada hanya jembatan runtuh, jalan amblas, dan sekolah kecil yang nyaris kehilangan denyut kehidupannya.
Banjir besar di Kecamatan Tebing Tinggi memang telah surut dari permukaan sungai. Tapi bagi Rere dan warga RT 03 Desa Langkap, air itu seakan menetap menggenang dalam bentuk keterisolasian, ketidakpastian, dan kecemasan akan masa depan anak-anak mereka.
Awal 2026 seharusnya membawa cahaya baru. Di banyak tempat, orang-orang menyusun resolusi dan harapan. Di SD Kecil Raranum, kalender yang tergantung di dinding justru mengering bersama noda air cokelat yang tak sempat dibersihkan. Waktu berjalan, tapi keadaan seperti tertinggal jauh di belakang.
Di sekolah ini, Rere mengajar lima murid. Jumlah yang bagi sebagian orang mungkin terasa sepele. Tapi bagi Rere, lima pasang mata itu adalah lima cerita yang tak boleh berhenti di tengah jalan.
Tiga anak telah bertahan sejak tahun ajaran sebelumnya. Dua lagi akan menyusul, membawa harapan baru di tengah bangunan yang belum sepenuhnya pulih.
Jembatan Kaitan, yang dulu menghubungkan desa dengan dunia luar, kini hanya tinggal kerangka besi yang mencuat sendu di tengah sungai. Jalan menuju sekolah sepanjang empat kilometer terputus di tiga titik, menjelma rintangan yang menguji keberanian setiap langkah.
Menunggu bukan pilihan. Rere tahu itu. Bersama para wali murid dari 15 kepala keluarga yang tersisa, ia memilih bergerak. Mereka tidak membangun jalan seperti dalam rencana proyek. Mereka menyusun harapan darurat kayu bekas, batu sungai, apa pun yang bisa menopang langkah kecil anak-anak menuju sekolah.
“Akses satu-satunya hancur. Kalau kami diam, sekolah ini benar-benar akan mati,” ucap Rere pelan. Suaranya nyaris tenggelam oleh suara lumpur yang terinjak, Jumat (2/1/2025).
Di dalam sekolah, kesunyian terasa berat. Lantai berkerak lumpur. Meja dan kursi kayu menyimpan bekas rendaman air. Alat peraga yang dulu menjadi jembatan imajinasi kini teronggok tak berdaya. Bau tanah basah masih menggantung di udara, seolah enggan pergi.
Dengan sepatu bot yang sering tenggelam dalam genangan, Rere menyapu. Ia menyemprot. Ia mengelap. Setiap gerakan bukan sekadar membersihkan, melainkan menghidupkan kembali ruang aman bagi anak-anak untuk kembali percaya bahwa sekolah adalah tempat yang layak dirindukan.
“Kalau lantainya bersih, mereka bisa duduk lagi. Kalau mereka bisa duduk, mereka bisa bermimpi lagi,” katanya, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Yang paling menyayat hati adalah tumpukan buku pelajaran. Satu per satu ia buka. Ia pilah. Ia jemur. Buku yang masih bisa diselamatkan diperlakukan seperti harta karun. Karena bagi Rere, satu buku berarti satu pintu yang masih terbuka bagi masa depan.
Beban terberat justru tak terlihat. Ia ada di wajah anak-anak terutama dua murid baru yang datang bukan disambut upacara bendera, melainkan sekolah yang porak-poranda. Tidak ada sambutan manis, hanya realitas yang keras.
Mengapa bertahan untuk segelintir murid? Pertanyaan itu mungkin mudah dilontarkan dari jauh. Tapi bagi Rere, pendidikan bukan soal jumlah. Ini soal hak yang tidak boleh hanyut bersama banjir. Jika ia berhenti, maka Raranum akan benar-benar terputus bukan hanya dari jalan, tapi dari harapan.
“Bantu kami, masih ada anak-anak yang ingin belajar," ucapnya.
Ia tidak meminta banyak. Hanya alat belajar yang baru. Hanya alat berat untuk membuka kembali akses yang amblas. Hanya kesempatan agar sekolah kecil ini bisa bernapas lagi.
Di Raranum, gelar “Guru Terbaik” tidak diukur dari piagam yang dipajang di dinding. Ia diuji di lumpur yang lengket di sepatu, di jalan yang runtuh, dan di ruang kelas yang hampir menyerah. Di tempat ini, Rere tidak hanya mengajarkan membaca dan menulis ia mengajarkan cara bertahan, dan keberanian untuk tetap berharap.[arsyad]
