Bandung Lautan Api, di Mata Veteran Perang dan Petinggi Negara Tetangga

Asap membumbung dari bangunan yang dibakar pejuang Indonesia, dalam peristiwa Bandung Lautan Api, 23 Maret 1946. | Foto: Arsip Nasional Republik Indonesia.

BANDUNG Lautan Api terjadi tepat 75 tahun silam. Peristiwa ini ditandai dengan pembakaran sejumlah bangunan penting di kawasan Bandung selatan. Tujuannya, agar tak dijadikan pangkalan militer oleh Sekutu.

Banyak sumber menulis, momen heroik itu berlangsung pada Minggu, 24 Maret 1946. Ada pula yang bersaksi, kejadian itu berlangsung malam sebelumnya, Sabtu, 23 Maret. 

Salah satunya, seorang veteran, mantan anggota BKR (Badan Keamanan Rakyat), cikal-bakal Tentara Nasional Indonesia. Veteran itu, tidak disebut namanya, diwawancarai dalam penelitian berjudul "Onafhankelijkheid, Dekolonisatie, Geweld en Oorlog in Indonesie 1945-1950" (Kemerdekaan, Dekolonisasi, Kekerasan dan Perang di Indonesia 1945-1950).

Proyek tersebut dilakukan atas kerjasama tiga lembaga penelitian bidang sejarah di Belanda: KITLV, NIMH, dan NIOD. Tujuannya, merekam ingatan personal, saksi hidup, yang mengalami dan menyaksikan sendiri berbagai hal yang terjadi selama kurun waktu itu. 

Mulai dari hal-hal kecil sampai peristiwa yang dinilai penting dan bersejarah.

Sang veteran bercerita mengenai sebuah peristiwa, yang kemudian dikenal dengan Bandung Lautan Api. Umurnya baru 18 tahun.

Sebagai anggota BKR, ia mendapat tugas menjaga stasiun kereta api yang ada di daerah Bandung selatan. Areal ini harus dilindungi dari pasukan Sekutu, yang mulai menyerang dari arah utara. Ada banyak bangunan strategis di kawasan ini.

Namun Sabtu malam, 23 Maret 1946, bangunan-bangunan penting itu dibakar oleh pejuang Indonesia. Ia benar-benar berada di tengah pusaran kekacauan. 

Ia melihat orang-orang berlarian keluar rumah. "Semua dibakar. Api membumbung tinggi. Langit terang-benderang. Warnanya merah."

EMPAT tahun setelah peristiwa heroik itu, Presiden Sukarno melakukan kunjungan ke negara-negara sahabat di Asia Selatan dan Tenggara.

Burma atau Birma, salah satunya. Di negara yang sekarang dikenal sebagai Myanmar itu, Sukarno disambut Presiden Sao Shwe Thaik.

Seorang petinggi Burma yang mendampingi Shwe Thaik, bertanya kepada Sukarno, "Peristiwa itu sedemikian terkenal. Bagaimana Anda melakukannya?"

Sukarno kemudian menunjuk Kolonel Abdul Haris Nasution, yang turut dalam kunjungan tersebut. "Dia yang melakukan bumi hangus", jawab Sukarno, menunjuk Nasution.[sahrudin]