Pasir Kosong, DPUPR Berharap Pemprov Percepat Proses Perizinan

BUNTOK – Kekosongan bahan bangunan berupa pasir cukup mengancam proyek pembangunan infrastruktur yang tengah dikerjakan Dinas Perumahan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Barito Selatan (Barsel) Kalimantan Tengah.

Kabarnya, kekosongan material bangunan ini akibat Izin Usaha Pertambangan (IUP) galian C pasir, karena masa berlakunya habis. 

Tentunya kondisi ini mengganggu jalannya proyek pembangunan, mengingat penyedia jasa alias kontraktor masih melakukan pekerjaan infrastruktur pembangunan.

"Kami dari Dinas PUPR Barsel kemarin melakukan kegiatan di beberapa titik yang terkendala. Sangat memprihatinkan adalah pasir. Kita ketahui ada beberapa titik untuk pengambilan pasir, namun di sana mereka tidak ada lagi yang kerja," ungkap Kepala DPUPR Barsel, Dr Ita Minarni, Kamis (27/10/2022).

Menurutnya, para penambang pasir kabarnya tidak bisa beroperasional karena izin usaha mereka mati. Pihaknya berharap Pemerintah Provinsi bisa mengambil satu langkah kebijakan untuk mempercepat proses perizin tersebut. 

"Kami dari DPUPR terkait sektor bidang pembangunan sangat terhambat. Ini sangat berdampak pada pembangunan, bahkan beberapa kegiatan kita sekarang belum bisa bergerak," terangnya.

Ia menambahkan, masih ada sekitar 50 persen proyek yang belum bisa jalan. Hal ini sangat dirasakan sekali dampaknya bagi proyek pembangunan yang dilakukan DPUPR.

"Alangkah sayangnya anggaran kami yang sudah dianggarkan, sehingga tidak bisa jalan gara-gara pasir. Kami berharap Pemerintah Provinsi membuka sedikitlah peluang untuk melihat sisi pembangunan kami atau penyediaan jasa, jangan sampai terhambat gara-gara kekosongan material pasir ini," keluh Ita.

Ia menyebut ada beberapa kontraktor melapor ke DPUPR bahwa tidak bisa berlanjut karena pasir kosong. Ada beberapa langkah, pasir bisa diambil di daerah Kaluwa, tetapi speknya berbeda.

“Ini sangat berpengaruh dengan penyerapan anggaran kami, dan kemajuan kegiatan tim skedul yang kemarin seharusnya bulan ini sudah berjalan sekian persen, semetara ini semua tersendat,“ bebernya.

Ia mengatakan, kenaikan harga BBM juga mempengaruhi kenaikan harga material lantaran naik semua. Tetapi itu sudah menjadi risiko rekanan, akan tetapi bila ada bahannya masih bisa diatasi.

”Ini apabila bahannya (pasir) yang tidak ada, bagaimana bisa terlaksana pekerjaan proyek yang sudah dikerjakan mereka," pungkas Ita.[tomi]