PELAIHARI - Layar film dokumenter Pesta Babi bukan sekadar tontonan bagi puluhan pemuda yang berkumpul di depan Sekretariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Tanah Laut (Tala). Film itu berubah menjadi ruang curahan keresahan tentang rusaknya alam Papua dan ancaman hilangnya ruang hidup masyarakat adat.
Suasana haru hingga perdebatan kritis mewarnai kegiatan nonton bareng dan diskusi yang digelar HMI Tala bersama Komunitas GACA, Minggu malam (24/5/2026).
Keresahan itu disampaikan langsung oleh Apinus Walila, mahasiswa asal Papua Pegunungan yang kini menempuh pendidikan di Politeknik Negeri Tanah Laut (Politala). Di hadapan peserta diskusi, ia mengungkapkan kekecewaannya terhadap kerusakan alam yang menurutnya perlahan menghilangkan sumber kehidupan masyarakat adat.
Bagi masyarakat Papua, alam bukan hanya tempat mencari makan, melainkan bagian dari kehidupan yang dijaga turun-temurun. Karena itu, eksploitasi lingkungan dinilai bukan sekadar persoalan pembangunan, tetapi juga menyangkut hilangnya identitas dan masa depan masyarakat lokal.
"Tanggapan dari saya, saya mungkin merasa kecewa karena kami itu hidup di alam. Karena kita menjaga alam, alam, ya menjaga kita. Kita bisa menghasilkan apa yang kebutuhan kita bisa diambil. Tapi kalau ya udah dirusak kayak gitu kan ya karena dikimana-gimana lagi kalau alam kita dirusak," ujar Apinus dengan nada getir saat diwawancarai.
Saat ditanya mengenai kondisi di kampung halamannya, Apinus mengatakan situasi seperti yang digambarkan dalam film memang belum sepenuhnya terjadi di daerahnya. Namun, ia menilai ancaman kerusakan lingkungan perlahan mulai terlihat.
"ya, sekarang mungkin belum ada di sana seperti yang kayak tadi. Jadi, ya belum, mungkin belum masuklah," tambahnya.
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 20.00 WITA itu dihadiri sekitar 50 peserta, mulai dari kader HMI, mahasiswa Politala, pelajar SMA, hingga komunitas pemuda di Pelaihari. Selain menonton film, peserta juga membedah persoalan agraria dan dampak proyek pembangunan terhadap masyarakat adat.
Sorotan utama tertuju pada program swasembada pangan pemerintah yang dinilai kerap berbenturan dengan hak masyarakat adat atas tanah leluhur. Sejumlah peserta menilai pendekatan pembangunan semestinya tetap mempertimbangkan keadilan sosial dan kemanusiaan bagi warga lokal.
Apinus pun menyampaikan pesan kepada pemerintah agar pembangunan tidak dilakukan dengan cara-cara represif serta tetap mengedepankan rasa keadilan bagi masyarakat.
"Saran dari saya untuk pemerintah, pemerintah mungkin ya, bisa menjalankan sih, cuman ya adil lah sesama manusia. Itu aja, karena di sana kami merasa sakit. Alam Kami di dirusak tanpa izin, tentara juga tegas gitu. Jadi kami sakit, mungkin ya secara manusia, harus adil gitu aja," tegas Apinus.
Usai pemutaran film, diskusi berlanjut hingga menjelang tengah malam dengan menghadirkan enam pemantik, yakni Muhammad Erwin Permana, Muhammad Ilmi, Muhammad Nurdiyanto dari HMI, Muhammad Varen Indranata dan Daniel Tangel dari Politala, serta Nazar dari Komunitas GACA.
Perdebatan berlangsung dinamis ketika peserta mulai menyoroti persoalan konflik agraria dari berbagai daerah, termasuk isu lokal di Kabupaten Tala. Mulai dari ekspansi lahan korporasi hingga ancaman terhadap ruang hidup masyarakat turut menjadi bahan pembahasan malam itu.
Melalui diskusi tersebut, para peserta sepakat bahwa persoalan perampasan ruang hidup dan pembungkaman suara masyarakat tidak boleh dianggap sebagai masalah daerah tertentu saja. Mereka menilai, isu itu merupakan persoalan kemanusiaan yang harus terus dikawal demi terciptanya keadilan sosial bagi semua.[lastri]
Tags
peristiwa
