BARABAI - Komando Distrik Militer (Kodim) 1002/Hulu Sungai Tengah menggelar Latihan Aplikasi Sistem Blok Terpilih Penanggulangan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan guna memperkuat kesiapsiagaan taktis tim gabungan lintas instansi menghadapi ancaman musim kemarau, Kamis (11/6/2026).
Agenda simulasi kedaruratan yang berpusat di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah tersebut mengintegrasikan kekuatan personel dari unsur TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) 654 Murakata.
Dalam skenario latihan, para peserta digembleng secara intensif mulai dari rantai komando deteksi dini titik panas, mekanisme pelaporan cepat, pengerahan armada taktis, hingga teknik pemadaman api secara terpadu di lapangan.
Uji petik ini dinilai sangat krusial sebagai sarana sinkronisasi sistem komunikasi dan pengecekan kelayakan seluruh peranti pemadam agar tidak ditemukan kendala teknis saat terjadi situasi darurat yang sebenarnya.
Melalui penyamaan persepsi operasi ini, otoritas keamanan daerah berkomitmen penuh untuk melindungi ekosistem lingkungan sekaligus meminimalisasi dampak buruk kabut asap bagi kesehatan masyarakat.
“Melalui latihan ini diharapkan seluruh peserta memiliki pemahaman dan persepsi yang sama dalam prosedur penanggulangan Karhutla,” ujar Kapten Inf Bajuri
Pihaknya menegaskan bahwa kecepatan bertindak di lapangan menjadi kunci utama agar kobaran api di area lahan tidur tidak meluas ke kawasan permukiman.
“Sehingga apabila terjadi bencana di wilayah, seluruh unsur dapat bertindak secara profesional dan efektif,” tambah Pasiops mengenai target standarisasi kemampuan personel di lapangan.
Keterbatasan jangkauan wilayah geografis menuntut adanya pembagian zona kerja yang terstruktur agar pergerakan truk tangki air berjalan lebih efisien.
Pihak TNI juga menggarisbawahi bahwa keberhasilan penanganan krisis lingkungan ini bertumpu pada kuatnya ikatan kemitraan antarkomponen daerah.
“Penanggulangan Karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu instansi saja, melainkan memerlukan sinergi dan kolaborasi seluruh komponen,” jelasnya.
Oleh karena itu, keterlibatan aktif dari kelompok relawan swadaya masyarakat di tingkat desa akan terus dibina secara berkelanjutan sebagai baris terdepan pengawasan.
“Diharapkan dampak yang ditimbulkan dapat diminimalisir serta keselamatan masyarakat dan lingkungan tetap terjaga,” pungkasnya.
Melalui konsistensi penguatan kapasitas penanggulangan bencana berbasis kolaborasi ini, jajaran pengamanan terpadu Kabupaten Hulu Sungai Tengah optimistis mampu mengawal stabilitas wilayah dari ancaman kebakaran hutan secara tangguh dan profesional.[nata]
Tags
peristiwa
