PARINGIN - Tidak semua seniman menemukan ruang berkaryanya hanya di atas panggung. Bagi Saljah Isal, atau yang akrab disapa Isal, dunia seni justru membawanya menjelajah ke banyak tempat dan mencoba berbagai peran.
Pria asal Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, ini mengawali perjalanannya melalui musik reggae. Ia aktif tampil di sejumlah panggung musik di Balangan hingga Banjarmasin dan kemudian bergabung dengan Banjarmasin Reggae Community.
Dari komunitas itulah jejaring dan pengalamannya semakin berkembang. Isal tidak hanya bermain musik, tetapi mulai terlibat dalam berbagai kegiatan seni dan budaya.
Menariknya, ia lebih sering mengambil peran di balik layar.
Isal pernah menangani artistik, tata suara, perlengkapan, hingga pekerjaan teknis di lapangan, termasuk kelistrikan. Baginya, setiap pekerjaan merupakan bagian dari proses belajar.
“Kalau di festival itu Isal ini memiliki bidang Isal. Soalnya semua teknis di lapangan kadang dia yang ngerjain,” ujar Yudi Febrianda, salah seorang yang mengenal Isal dalam berbagai kegiatan.
Kemampuan beradaptasi dengan berbagai pekerjaan membuat Isal terlibat dalam sejumlah festival budaya di Kalimantan. Di antaranya Mesiwah Pare Gumboh, Festival Dayak Deah, Festival Budaya Dayak Maanyan Warukin, serta Festival Keang di Barito Timur, Kalimantan Tengah.
Perannya pun tidak selalu sama. Kadang ia berada di bagian artistik, mengurus tata suara, mempersiapkan perlengkapan, atau turun langsung ketika ada persoalan teknis di lapangan.
Dari sana, Isal belajar bahwa sebuah pertunjukan yang terlihat sederhana di hadapan penonton sebenarnya lahir dari kerja banyak orang.
Pengalamannya kemudian membawanya keluar Kalimantan. Ia pernah terlibat dalam sejumlah kegiatan seperti Ngayogjazz, Jazz Kotabaru Jogjakarta, hingga Dieng Culture Festival di Pulau Jawa.
Bagi Isal, perjalanan tersebut bukan sekadar kesempatan untuk bekerja di tempat baru. Setiap festival menjadi ruang untuk bertemu komunitas, mengenal kebudayaan berbeda, sekaligus belajar bagaimana sebuah kegiatan dipersiapkan dan dijalankan.
Perjalanan itu pula yang membentuk pandangannya bahwa menjadi pekerja seni tidak harus terpaku pada satu kemampuan. Musik menjadi jalan awalnya. Komunitas memperluas pergaulannya. Festival mengajarkannya tentang kerja kolektif, sementara pekerjaan teknis membuatnya terbiasa menghadapi persoalan secara langsung.
Kini, Isal tetap aktif bermusik bersama komunitas reggae sekaligus terlibat dalam berbagai kegiatan seni dan budaya.
Dari Balangan hingga berbagai wilayah di Kalimantan dan Pulau Jawa, langkahnya menunjukkan bahwa pengalaman bisa datang dari mana saja bahkan dari pekerjaan yang sering luput dari perhatian.
Sebab ketika penonton menikmati sebuah pertunjukan, ada orang-orang yang bekerja dalam diam agar semuanya berjalan. Isal memilih menjadi salah satunya.[Martin]
Tags
balangan
